Angkatan Udara India mengerahkan 80 pesawat tempur/fighter aircraft pada serangan udara/air attack yang diarahkan ke enam titik. Dari 80 pesawat tempur yang dikerahkan India, lima diantaranya berhasil ditembak jatuh oleh Pakistan.
Menurut otoritas Pakistan seperti dikutip dari pemberitaan di berbagai media digital, kelima pesawat tempur yang ditembak jatuh adalah tiga unit Rafale buatan Prancis beserta satu unit MiG-29 dan SU-30 buatan Rusia. Penembakan dilakukan ketika kelima pesawat tempur tersebut masih berada di wilayah udara India ketika berupaya menyerang Pakistan.
Konflik kedua negara tetangga yang pecah akibat serangan kelompok bersenjata yang menembaki 25 warga negara India dan satu warga negara Nepal di daerah pegunungan Pahalgam di Kashmir pada 22 April lalu diharapkan oleh dapat segera mereda. Insiden yang terjadi di kawasan destinasi wisata populer yang dikelola India tersebut juga dikuatirkan akan memicu pertikaian dua angkatan udara regional yang dikenal memiliki kekuatan yang cukup signifikan di kawasan.
Baca juga:
Kekuatan Udara India
Secara kuantitatif, India memiliki jumlah pesawat tempur yang lebih banyak jika dibandingkan dengan Pakistan. Tulang punggung/backbone kekuatan udara/air power, negara yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi adalah Su-30 MKI buatan Rusia. Namun, tak hanya Sukhoi, Angkatan Udara India juga mengoperasikan tujuh jenis pesawat tempur yang diproduksi oleh berbagai negara. Salah satunya adalah Rafale buatan Prancis yang pada 2022 telah dikirim sebanyak 36 unit ke India.
Selain Rafale, India juga mengoperasikan Dassault Mirage 2000H/I yang juga buatan Prancis. Tak hanya buatan Prancis, India juga memiliki pesawat tempur buatan Rusia seperti Sukhoi dan MiG-29 dan MiG-31. Selain Prancis dan Rusia, India juga memiliki industri dirgantara di dalam negeri yaitu Hindustan Aeronautics Tejas yang terbukti telah mampu memproduksi pesawat tempur Mk1.
Global Fire Power, salah satu situs militer terkemuka yang sering dijadikan rujukan, mengungkapkan jika Angkatan Udara India memiliki 513 pesawat tempur, 270 pesawat angkut, 351 pesawat latih ringan, 74 pesawat misi khusus, dan 6 tanker fleet. Angkatan udara India juga mengoperasikan helikopter sebanyak 899 unit, dimana 80 diantaranya merupakan helikopter serang.
Baca juga:
Kekuatan Udara Pakistan
Meski kalah secara kuantitatif/jumlah, Pakistan dinilai oleh banyak pengamat lebih unggul secara kualitas dibanding negara tetangga yang menjadi rivalnya. Dukungan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dalam pembangunan alat utama sistem senjata (Alutsista) Pakistan memberikan dampak yang sangat signifikan.
Pesawat tempur yang menjadi tulang punggung Angkatan Udara Pakistan adalah 138 JF-17 Chengdu. Pesawat yang diproduksi bersama oleh RRT dan Pakistan Aeronautical Complex dipersenjatai dengan rudal dari udara ke udara/air to air jarak jauh PL-15 yang juga buatan RRT.
Angkatan Udara Pakistan juga mengoperasikan 24 Chengdu J-10C terbaru. Pesawat buatan RRT itu dinilai hampir menyamai kekuatan F-16 Viper produksi Lockheed Martin, Amerika Serikat. Dilengkapi pemindaian elektronik aktif yang memiliki fasilitas radar array, RRT dan Pakistan mengklaim jika J-10C versi terbaru jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan varian terdahulu.
Baca juga:
Angkatan Udara Pakistan mengoperasikan 328 unit pesawat tempur, dan 90 unit diantaranya merupakan pesawat tempur strategis, 565 unit pesawat latih, 27 unit pesawat misi khusus yang dapat melakukan misi mata-mata, 64 pesawat angkut pasukan dan 4 unit pesawat tanker yang berfungsi melakukan pengisian bahan bakar di udara. Selain pesawat tempur, Pakistan juga memiliki 373 unit helikopter, dan 57 di antaranya merupakan heli serang.
.
Pertempuran udara India melawan Pakistan diprediksi masih akan terus berlangsung. Kedua negara tetangga yang telah berhadapan dalam sebuah perang terbuka, kemungkinan besar akan menunjukan kekuatan udara/air power dalam pertempuran-pertempuran berikutnya.
Dari kedua negara yang sedang bersengketa itu, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil oleh seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia tentang bagaimana membangun kekuatan udara. Perlu diamati dengan seksama dan jeli bagaimana Pakistan yang didukung teknologi dirgantara tercanggih dari RRT menghadapi modernisasi angkatan udara India yang didukung oleh teknologi dari Prancis dan Rusia.
Baca juga:
Kekuatan pesawat tempur, termasuk jumlah, kesiapan tempur/combat readiness, juga harus didukung oleh keunggulan dalam sistem pertahanan udara suatu negara yang dibangun dengan visi yang jelas. Visi yang jelas dan terarah, ketika diterapkan harus diawasi sedemikian rupa agar dapat membentuk sistem C4ISR (Command, Control. Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) yang responsif sehingga dapat diandalkan.
Karena perang modern sebagian besar, untuk tidak mengatakan semuanya kemungkinan besar akan terjadi di udara; maka adalah sebuah keniscayaan jika sistem radar, peringatan dini/early warning system hingga kontrol terhadap pertempuran harus mendukung operasi yang digelar di udara. Perlu diwaspadai, pesawat tempur tercanggih maupun rudal dengan teknologi terkini masih memiliki peluang untuk dilumpuhkan dengan teknik jamming.
Jadi meskipun di atas kertas kekuatan udara Pakistan terlihat di permukaan jauh tertinggal dari India, tidak berlebihan jika untuk sementara disimpulkan jika Pakistan dengan dukungan RRT terlihat lebih siap menghadapi serangan udara mendadak yang dilakukan India. Sistem pertahanan udara Pakistan terlihat jelas mampu menjalankan misi mempertahankan wilayah kedaulatan udara yang diserang secara mendadak oleh negara tetangganya.{}




