Ilustrasi Penerbang tempur di kokpit pesawat. Foto: Pixabay
Dua Penyebab Penerbang Tempur Korea Selatan Salah Sasaran

Date

The sky is a vast place, but there is no room for error.Langit memang sangat luas, tetapi tidak ada ruang sedikitpun untuk berbuat kesalahan.

Malapetaka terjadi di perbatasan Korea Selatan/Korsel dengan Korea Utara/Korut, Kamis, 6 Maret 2025 sekitar pukul 10.00 pagi waktu setempat. Delapan bom serbaguna MK-82 yang dirilis KF-16, pesawat tempur Angkatan Udara Korsel, jatuh di luar jarak tembak yang ditentukan dan meledak di sebuah desa yang merupakan pemukiman warga sipil.

Seperti dikutip dari kantor berita Agence France-Presse (AFP), Angkatan Udara Korsel/Republic of Korea Air Force (ROKAF) langsung membentuk komite khusus. Komite bertugas untuk merespons sekaligus menyelidiki insiden yang terjadi di Pocheon, kota yang terletak sekitar 25 kilometer di selatan perbatasan Korsel dengan Korut yang dijaga ketat oleh tentara dari kedua negara. 

Bom dijatuhkan dari pesawat tempur ROKAF yang sedang melakukan latihan gabungan/Latgab dengan Angkatan Darat Korsel/Republic of Korea Army. Yonhap News Agency, kantor berita Pemerintah Korsel, menurunkan laporan Angkatan Bersenjata Korsel/Republic of Korea Armed Forces sedang mempersiapkan tentaranya untuk menggelar Latgab dengan pasukan Amerika Serikat (AS) di Pocheon.

Baca juga:

Latihan militer gabungan/joint exercise Korsel-AS bertajuk “Freedom Shield”. Joint exercise merupakan salah satu latihan gabungan tahunan terbesar Korsel dengan AS. Freedom Shield rencananya akan dimulai pada akhir Maret atau bulan ini.

Dalam rangka persiapan Latgab, AS telah menempatkan puluhan ribu tentara di Korsel. Penempatan pasukan/deployment puluhan ribu tentara ASmemiliki tujuan utama untuk melindungi Korsel dari ancaman serangan Korut. Namun sangat disayangkan upaya perlindungan yang diberikan oleh AS yang dijuluki negeri Paman Sam justru tercoreng akibat insiden jatuhnya bom di Pocheon. 

Badan Pemadam Kebakaran Nasional Korea Selatan mengemukakan jika bom diduga jatuh di salah satu desa pada saat digelarnya Latgab. Ledakan bom mengakibatkan jatuhnya korban dan kerusakan properti serta banyak penduduk mengungsi.

Baca juga:

Dalam pernyataan resminya, ROKAF sangat menyesalkan dirilisnya bom yang tidak disengaja sehingga menyebabkan jatuhnya korban rakyat sipil yang tidak berdosa. ROKAF juga berharap para korban terluka segera pulih dan semua tindakan yang dibutuhkan akan diambil, termasuk kompensasi atas kerusakan.     

Insiden tersebut jika dirangkum merupakan bagian dari persiapan Latgab “Freedom Shield” antara Angkatan Bersenjata Korsel dengan militer United States (US)/AS yang rutin digelar setiap tahun. Salah satu exercise adalah latihan antara ROKAF dan ROK Army dengan merilis bom di area latihan yang terletak 25 Kilometer dari perbatasan dengan Korut.

Bom yang dipakai latihan adalah MK-82. Beratnya 500 lbs/pon atau kurang lebih 250 Kilogram. Dari laporan pandangan mata/live terlihat asap yang membumbung tinggi. Bom yang dirilis dari jet tempur KF-16 sebanyak delapan unit dan jatuh di pemukiman sehingga beberapa bangunan rusak dan 15 warga mengalami luka-luka berat maupun ringan.

Baca juga:

Penyebab bom yang salah sasaran bisa disebabkan dua kemungkinan. Pertama, penerbang jet tempur/fighter pilot KF-16 tidak sengaja menekan tombol setelah sistem persenjataan sudah diaktifkan/on atau arming. Kedua, penerbang tempur/fighter pilot salah menginput data sasaran dalam sistem avionik di pesawat KF-16.       

Dari kedua kemungkinan itu, penyebab yang pertama karena tidak sengaja menekan tombol sangat mungkin terjadi atau dialami semua penerbang tempur/fighter pilot yang sedang menerbangkan pesawat di kokpit. Sementara terkait dengan kemungkinan kedua yaitu penerbang salah memasukkan sasaran, jika memang itu yang menjadi penyebab salah sasaran, di dalam sistem selalu ada pemeriksaan silang/cross check. Pemeriksaan silang dilakukan terhadap semua data yang diinput oleh penerbang.

Andaikata penyebab bom salah sasaran diakibatkan oleh kemungkinan kedua, seharusnya penerbang paham terhadap sasaran yang akan dihancurkan; sehingga walaupun input koordinat sasaran kurang presisi atau bahkan salah, maka seharusnya penerbang tidak akan merilis bom jika secara visual sasaran bisa diidentifikasi.

Baca juga:

Tentu tidak ada angkatan bersenjata atau lebih spesifik angkatan udara dari negara manapun yang salah sasaran ketika melakukan misi pemboman/bombing mission. Oleh sebab itu, dalam setiap misi, penerbang harus merencanakan dengan sebaiknya-baiknya jalannya operasi dalam sebuah misi. Mulai dari rute penerbangan sejak pesawat lepas landas/take off hingga mendarat/landing, termasuk bernavigasi ke arah target atau sasaran.

Tak hanya itu, sasaran yang telah ditentukan atau disepakati harus dipelajari terlebih dahulu dengan detail. Begitu juga pertahanan di daerah musuh juga harus diperhitungkan dengan penuh kehati-hatian, termasuk juga pertahanan yang dimiliki musuh di sekitar target operasi udara. Terakhir, sekaligus yang terpenting, tentu saja hasil investigasi yang dilakukan oleh komite khusus yang dibentuk oleh ROKAF sangat ditunggu oleh semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Langit memang sangat luas, tetapi tidak ada ruang sedikitpun untuk berbuat kesalahan/The sky is a vast place, but there is no room for error.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya