Bersama para penerbang tempur TNI-AU di depan pesawat F-5 Tiger. Sumber: Koleksi Pribadi. Editor Foto: Feri Handoko.
2300 Jam Menunggangi F-5 Tiger, Sang Macan Terbang

Date

Taktik yang cerdik harus dikuasai penerbang karena Tiger F-5 tidak memiliki kemampuan menembak jarak jauh seperti pesawat tempur generasi selanjutnya.

Pada 1976, saya dinyatakan lulus dari Akademi Angkatan Udara (AAU) yang dulu bernama Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Udara. Setelah lulus dari AAU, tahun berikutnya atau pada 1977, saya masuk ke Sekolah Penerbang (Sekbang) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Beberapa bulan kemudian, kabar baik datang dari Amerika Serikat (AS). 

AS yang dijuluki Negeri Paman Sam membuka kesempatan bagi tiga orang siswa dari Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Sekbang Angkatan Udara di DIY. Cerita tentang bagaimana perjuangan hingga pada akhirnya berhasil menjadi salah satu kandidat yang berhasil berangkat ke AS, telah saya tuangkan dalam beberapa artikel di situs pribadi/personal website.

Setelah menempuh pendidikan selama kurang lebih setahun di negeri Paman Sam, saya kemudian pulang ke Indonesia pada 1978. Selama setahun, sejak awal hingga akhir 1979, di Pangkalan Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (Lanud) Iswahjudi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, saya menjalani terbang konversi pesawat tempur F-86 yang dijuluki Sabre Jet.

BACA JUGA:

Setelah 105 jam di kokpit Sabre Jet. Sekitar pertengahan atau semester kedua 1979, giliran para penerbang muda TNI-AU menjalani transisi pesawat T-33 “Shooting Star”. Memasuki tahun 1980, setelah menjalani konversi F-86 dan T-33, saat yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Saya kembali diberi kepercayaan oleh pimpinan TNI-AU untuk mengikuti konversi pesawat tempur F-5 yang dijuluki “Tiger”. 

Saya menerbangkan F-5 selama 2300 jam. Sejak 1980 hingga 1995, selama 15 tahun berada di kokpit “Sang Macan Terbang”, seluk beluk dan lika-liku pesawat tempur ringan/light fighter, yang dikembangkan oleh Northrop masih melekat dalam ingatan hingga hari ini. Pertama kali dikembangkan pada 1959, jet tempur yang dikategorikan termasuk dalam generasi ketiga ini memasuki layanan aktif di Angkatan Udara AS/United States Air Force (USAF) pada 1962.

F-5 didesain sebagai jet tempur dengan harga terjangkau. Selain harganya kompetitif di pasaran, “Tiger” juga didesain sebagai pesawat yang dapat dioperasikan dan dipelihara dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. Namun, meski harganya terjangkau dan biaya operasional maupun perawatannya juga terukur, jet tempur berkursi tunggal/single serta ganda/double mampu bermanuver dengan baik dan memiliki kecepatan tinggi seperti pesawat tempur generasi ketiga lainnya.

BACA JUGA:

Satu skadron Tiger yang terdiri dari 16 pesawat pernah ditempatkan di Lanud Iswahjudi yang merupakan jantung pertahanan udara Indonesia. Sebagai salah satu penerbang F-5, saya menerbangkan Tiger sekaligus selalu berusaha keras agar pesawat generasi terbaru TNI-AU pada waktu itu dapat mencapai performa terbaiknya. Kelebihannya adalah dapat mencapai kecepatan maksimum dalam waktu yang singkat. Selain itu pesawat juga dapat melakukan berbagai manuver yang cukup ekstrem.

Namun performa terbaik pesawat dapat direalisasikan; apabila sang penerbang di dalam kokpit memiliki keterampilan pertempuran jarak dekat/dogfight yang mumpuni. Taktik yang cerdik harus dikuasai penerbang Tiger karena F-5 tidak memiliki kemampuan menembak jarak jauh seperti pesawat tempur generasi selanjutnya. Oleh sebab itu, penerbang juga perlu memahami batasan dan kekuatan pesawat untuk mengoptimalkan kinerja dalam suatu pertempuran udara jarak dekat.

Sebagai jet tempur terbaik di generasi ketiga, F-5 Tiger memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya sangat diperhitungkan pada masanya, terutama sebagai pesawat tempur ringan yang dapat dioperasikan dengan biaya rendah. Berikut beberapa kelebihannya:

BACA JUGA:

  1. Manuver
    Dirancang dengan penekanan pada manuverabilitas, pesawat memiliki kemampuan manuver yang baik dan memungkinkan penerbang untuk melakukan gerakan yang lebih dinamis dalam pertempuran udara.
  2. Berkecepatan Tinggi
    Memungkin F-5 Tiger mendekati dan menghindari ancaman musuh dengan cepat.
  3. Biaya Operasional Rendah
    Salah satu tujuan utama pengembangannya adalah menciptakan pesawat tempur yang dapat dioperasikan dengan biaya rendah. Hal itu membuatnya menjadi pilihan yang ekonomis bagi banyak negara yang membutuhkan kekuatan udara yang andal tanpa harus membebani anggaran.
  4. Kemampuan Pengintaian
    Meskipun bukan pesawat pengintaian murni, jet tempur dapat dilengkapi dengan kamera dan sensor ringan untuk mendukung misi pengintaian taktis.
  5. Fleksibilitas
    Dapat digunakan dalam berbagai peran, termasuk penyerangan darat, pertahanan udara, dan dukungan udara dekat. Berbagai peran pesawat membuatnya dapat diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan berbagai skenario pertempuran.
  6. Kemampuan Pelatihan
    Sering digunakan sebagai pesawat latih karena sederhana dalam desain dan operasionalnya. Hal ini membuatnya cocok untuk melatih pilot baru atau untuk meningkatkan keterampilan pilot yang lebih berpengalaman.
  7. Bentuknya yang ramping
    Bentuk ramping F-5 Tiger sulit dideteksi dengan mata. Hal itu menguntungkan dalam pertempuran udara ke udara jarak dekat. Selain itu dengan bentuknya yang ramping menjadikannya memperoleh radar cross section hanya dua meter persegi. Hal itu menyebabkan pesawat baru dapat dideteksi oleh radar pada jarak yang relatif dekat.

BACA JUGA:

Jadi dari berbagai kelebihan yang telah diutarakan, meskipun F-5 Tiger tidak sekompleks atau sekuat pesawat tempur generasi berikutnya, kelebihan-kelebihan tersebut menjadikannya pesawat yang cukup andal pada masanya, terutama untuk negara-negara yang memiliki anggaran pertahanan terbatas atau minim.

Selain kelebihan, “Sang Macan Terbang” juga memiliki beberapa kekurangan, antara lain:

  1. Kapasitas Senjata Terbatas, terutama jika dibandingkan dengan pesawat tempur generasi berikutnya. Keterbatasan sangat berdampak pada kemampuan pesawat dalam pertempuran udara maupun serangan darat yang melibatkan penggunaan senjata canggih.
  2. Keterbatasan Avionik
    Sebagai pesawat generasi ketiga, F-5 memiliki avionik yang kalah canggih dibandingkan dengan pesawat tempur generasi berikutnya seperti sistem radar yang kurang mutakhir sehingga mengakibatkan terbatasnya kemampuan pengawasan udara dan deteksi target.
  3. Keterbatasan jangkauan dan daya tahan yang membatasi jangkauan operasional dan waktu terbangnya.
  4. Rentan terhadap Pesawat Modern:
    Dalam pertempuran udara dengan pesawat tempur generasi yang lebih tinggi, F-5 mungkin rentan terhadap pesawat dengan teknologi yang lebih canggih dan senjata jarak jauh yang lebih efektif.
  5. Keterbatasan dalam Pemeliharaan dan Upgrade
    Seiring berjalannya waktu, pemeliharaan pesawat yang sudah tua bisa menjadi lebih rumit dan mahal. Selain itu, kemungkinan untuk meng-upgrade sistem dan avionik F-5 menjadi terbatas sehingga membuatnya sulit bersaing dengan pesawat tempur yang telah menjalani modernisasi signifikan.
  6. Rentan terhadap Sistem Pertahanan Udara Modern:
    Jet tempur kurang efektif menghadapi sistem pertahanan udara modern yang canggih, seperti rudal darat-ke-udara dan sistem pertahanan udara jarak jauh.
  7. Bentuk yang ramping mengakibatkan pesawat hanya bisa membawa bahan bakar yang terbatas. Hal itu menyebabkan endurance hanya sebentar, apalagi bila menggunakan after burner. Selain itu keterbatasan bahan bakar menyebabkan jarak jangkau operasional menjadi terbatas.

Dari uraian tentang kelebihan dan kekurangan yang telah dikemukakan di atas, pada akhir 1980-an, tepatnya pada 1989, TNI-AU akhirnya memutuskan untuk melakukan modernisasi Alat utama sistem senjata (Alutsista), dan menggantikan F-5 Tiger dengan F-16 Fighting Falcon.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya