Saya bersama dengan rekan-rekan penerbang F-16 TNI-AU di Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur. Sumber: Koleksi Pribadi. Editor foto: Ferry Handoko.
Cerita di Balik Kedatangan F-16 Pertama kali ke Indonesia

Date

Hingga kini, momen ketika roda pesawat menyentuh landasan Lanud Iswahjudi 37 tahun silam, masih terpatri jelas dalam ingatan saya. Sebuah akhir yang terasa begitu sempurna bagi sebuah misi penerbangan panjang melintasi Samudra Pasifik.

Empat penerbang tempur Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU) mendarat di Bandara Internasional Dallas Fort Worth, Amerika Serikat (AS). Pada semester pertama, tepatnya di bulan Mei 1989, Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU), Marsekal Tentara Nasional Indonesia (TNI), Oetomo, memerintahkan keempat penerbang tempur itu untuk mengikuti program “F-16 Convertion and Instructor Course”.

Keempat penerbang tersebut adalah Letnan Kolonel Penerbang (Letkol Pnb) Wartoyo, Mayor Pnb. Basri Sidehabi, Mayor Pnb. Rodi Suprasojo dan Mayor Pnb. Eris Herryanto. Sebelum terbang ke AS, kami berempat telah cukup lama atau mengantongi jam terbang yang cukup di kokpit F-5 Tiger, Pesawat tempur generasi ketiga yang diproduksi pabrikan Northrop yang juga berasal dari AS.

Setelah menjalani kursus/course, Letkol Wartoyo dan Mayor Eris pulang terlebih dahulu ke tanah air. Kami berdua pulang lebih dahulu ke Indonesia untuk mempersiapkan semua kebutuhan untuk menyambut kedatangan pesawat-pesawat tempur generasi keempat TNI-AU yaitu F-16.

BACA JUGA:

Kedatangan jet-jet tempur yang dijuluki Fighting Falcon itu ke Indonesia harus dipersiapkan sebaik mungkin. Salah satunya, atau bahkan yang terpenting adalah dengan membentuk skadron baru di Pangkalan TNI-AU Iswahjudi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di Lanud yang dikenal sebagai homebase para penerbang tempur itu, F-16 akan menempati hanggar skadron yang memakai nomor 3.  

Waktu kami berempat sedang belajar menerbangkan F-16, Fighting Falcon belum dikirim ke Indonesia. Pesawat rencananya baru akan dikirim ke Iswahjudi sebulan setelah kami selesai konversi. Empat unit pertama akan dikirimkan ke Iswahjudi; terdiri dari dua unit F-16 A dan dua unit F-16 B. F-16 A adalah pesawat tempur berkursi tunggal/single seat. Sedangkan F-16 B berkursi dua/dual seat.

Pengiriman pesawat yang pengadaannya di Indonesia dikenal dengan proyek “Bima Sena” itu diketuai oleh Marsekal Pertama (Marsma) TNI Sudjatio Adi. Melalui proyek “Bima Sena”, Indonesia membeli 12 unit F-16 produksi General Dynamics/Lockheed Martin Aircraft System. Setelah proses pengadaan disepakati kedua negara, pengiriman unit pesawat yang dipesan masih menjadi tanggung jawab negara produsen yaitu AS.

BACA JUGA:

 
Oleh sebab itu, pada waktu diterbangkan ke Indonesia, nomor ekor/tail number pesawat masih menggunakan nomor Angkatan Udara AS/United States Air Force (USAF). Tak hanya pesawat, pilot yang menerbangkannya juga masih dari USAF. Pada tahap awal atau fase pertama, dua unit F-16 A yang berkursi tunggal diterbangkan oleh dua penerbang USAF. Sementara dua unit F-16 B yang berkursi ganda, diterbangkan oleh dua pilot USAF di kursi depan, sedangkan dua penerbang TNI-AU yang baru saja selesai mengikuti konversi di AS, duduk di kursi belakang/back seat. Mereka adalah Mayor Pnb. Basri Sidehabi dan Mayor Pnb. Rodi Suprasojo.  

Jadi ketika saya dan Letkol Pnb. Wartoyo mempersiapkan kedatangan F-16 di Skadron 3 Lanud Iswahjudi; mulai dari infrastruktur maupun perangkat lunak/software, terbang feri/ferry flight TNI-AU pertama kali dilakukan oleh kedua rekan saya. Namun sangat disayangkan, pesawat dimana Mayor Basri duduk di kursi belakang mengalami kerusakan sehingga tidak dapat melanjutkan penerbangan ke Indonesia. Namun F-16 yang di dalam kokpit duduk Mayor Rodi mendarat/touchdown dengan sempurna di landasan/runway Lanud Iswahjudi yang juga dikenal sebagai jantung pertahanan udara Indonesia tepat pada 12 Desember 1989.

Sehari setelah pendaratan pertama di Indonesia, pada 13 Desember, KASAU langsung meresmikan F-16 sebagai unsur kekuatan skadron udara 3. Setelah diresmikan, pengiriman gelombang kedua kembali dilakukan pada Mei 1990 dan disusul gelombang ketiga; pada September 1990. Pada pengiriman gelombang kedua, saya dan Letkol Wartoyo kembali ditugaskan untuk berangkat ke AS.

BACA JUGA:

Namun tidak seperti pengiriman gelombang pertama; kali ini, pada gelombang kedua; kami berdua terbang kembali ke Iswahjudi dengan duduk di kursi belakang/back seat F-16 B. Di kursi belakang, saya merasa sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mempelajari bagaimana USAF menggeser pesawat tempur generasi terbaru dari satu tempat ke tempat lain melalui misi penerbangan feri/ferry flight. Penerbangan dari Dallas ke Honolulu, dilanjutkan dengan melalui rute Midway yang terletak di tengah Samudra Pasifik sebagai alternate base. Misi penerbangan yang kemudian dilanjutkan dari Honolulu menuju ke Guam, hingga akhirnya roda pesawat menyentuh landasan/runway di Iswahjudi, Jawa Timur, akan saya ceritakan pada artikel berikutnya.

***

Hingga kini, momen ketika roda pesawat menyentuh landasan Lanud Iswahjudi masih terpatri jelas dalam ingatan saya, sebuah akhir yang terasa begitu sempurna bagi sebuah misi penerbangan panjang melintasi Samudra Pasifik.

Pada saat itulah, saya memahami jika itu semua hanya akhir dari sebuah awal/the end of the beginning. F-16 Fighting Falcon telah mendarat dengan selamat; bersama kedatangannya, sebuah era baru dalam fase pembangunan kekuatan udara Indonesia baru saja dimulai.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya