Di depan F-16 Fighting Falcon. Sumber: Koleksi pribadi.
Asal-Usul Call Sign “Mustang”

Date

“Karena shio saya Kuda.”

Itulah jawaban singkat yang biasanya saya berikan ketika seseorang bertanya tentang asal-usul call sign “Mustang”. Jawaban tersebut benar, tetapi tentu saja belum menggambarkan seluruh makna yang ada di baliknya.

Saya menyukai Mustang karena ia dikenal sebagai kuda jantan liar: kuat, bebas, berani, dan sulit ditundukkan. Ia tidak senang berdiri diam di dalam kandang. Ia membutuhkan ruang terbuka untuk berlari dan menguji kekuatannya. Karakter itu terasa dekat dengan kehidupan seorang penerbang tempur yang setiap hari berhadapan dengan kecepatan, ketinggian, risiko, dan batas kemampuan dirinya sendiri.

BACA JUGA:

Bagi sebagian orang, nama Mustang mungkin langsung mengingatkan pada Ford Mustang. Bagi penggemar sejarah penerbangan, nama itu dapat pula diasosiasikan dengan P-51 Mustang, pesawat tempur legendaris pada era Perang Dunia Kedua. Namun bagi saya, Mustang memiliki makna yang lebih personal. Nama itu menggambarkan kebebasan, keberanian, daya tahan, sekaligus sifat pantang menyerah.

Dalam dunia penerbangan militer, call sign dapat berkembang menjadi identitas kedua. Pangkat bisa berubah, jabatan datang dan pergi, sedangkan pesawat yang diterbangkan juga dapat berganti dari satu jenis ke tipe lain. Namun nama panggilan biasanya tetap hidup dalam ingatan rekan seangkatan, sesama penerbang, serta anggota skadron.

Sebelum melangkah lebih jauh, perlu dikemukakan terlebih dahulu tentang dua pengertian call sign yang sering dianggap sama. Pertama, radio call sign, yaitu identitas yang digunakan dalam komunikasi radio selama penerbangan, latihan, hingga operasi. Identitas tersebut dapat diberikan kepada sebuah pesawat, formasi, skadron, pangkalan, maupun unsur komando. Dalam situasi tertentu, namanya dapat berubah mengikuti misi dan kebutuhan pengamanan operasi.

BACA JUGA: 

Kedua, personal call sign, yaitu nama panggilan yang melekat pada seorang penerbang. “Mustang” yang saya gunakan termasuk dalam kategori ini. Ia bukan hanya kode komunikasi, melainkan telah menjadi bagian dari identitas profesional dan sosial di lingkungan para penerbang.

Komunikasi dalam penerbangan militer harus berlangsung singkat, jelas, dan tidak menimbulkan penafsiran ganda. Di dalam kokpit pesawat tempur, seorang penerbang harus mengelola banyak hal secara bersamaan: kecepatan, ketinggian, navigasi, radar, persenjataan, bahan bakar, kondisi pesawat, komunikasi, serta ancaman dari luar.

Dalam keadaan seperti itu, tidak tersedia banyak waktu untuk menyampaikan kalimat panjang. Nama panggilan yang singkat dan mudah dikenali jauh lebih efektif daripada menyebut nama lengkap, pangkat, atau jabatan seseorang.

BACA JUGA: 

Selain itu, Call sign juga membantu menghindari kekeliruan apabila terdapat beberapa penerbang dengan nama yang sama atau hampir sama. Dalam suatu operasi, identitas sebenarnya bahkan dapat disamarkan agar pihak lawan tidak mudah mengetahui siapa yang sedang terbang, satuan mana yang dikerahkan, atau kekuatan apa yang sedang dipersiapkan.

Namun call sign bukan semata-mata persoalan efisiensi komunikasi. Di internal skadron, nama panggilan ikut membentuk persaudaraan. Seorang penerbang tidak pernah bekerja seorang diri. Ia merupakan bagian dari sebuah tim yang dibangun oleh disiplin, kepercayaan, tanggung jawab, kebanggaan, dan tentu saja humor di antara sesama penerbang.

Tidak ada satu aturan yang berlaku secara universal. Setiap angkatan udara, bahkan masing-masing skadron, memiliki kebiasaan dan tradisinya masing-masing. Dalam beberapa kasus, seorang penerbang dapat mengusulkan sendiri nama panggilannya. Nama tersebut mungkin berasal dari karakter pribadi, daerah asal, bentuk fisik, hobi, nama binatang, tokoh yang dikagumi, atau pengalaman tertentu selama menjalani pendidikan.

BACA JUGA: 

Terkait call sign, shio Kuda dan ketertarikan terhadap karakter Mustang menjadi alasan yang kuat. Itu sebabnya saya memilihnya dengan penuh kesadaran. Nama itu terasa tepat, mudah diingat, dan memiliki makna yang saya sukai. Namun di banyak skadron tempur, call sign justru diberikan oleh rekan-rekan penerbang. Proses tersebut kadang dilakukan melalui tradisi tidak resmi yang disebut naming ceremony. Beberapa nama diusulkan, diperdebatkan, kemudian dipilih berdasarkan karakter atau pengalaman seseorang.

Nama yang diberikan tidak selalu terdengar gagah. Sebagian justru berasal dari kebiasaan aneh, permainan kata, kesalahan kecil, atau kejadian memalukan selama pendidikan dan latihan. Tradisi semacam itu sebenarnya memiliki pelajaran penting: sehebat apapun seorang penerbang, dia harus tetap rendah hati.

Karena itu, seorang penerbang belum tentu memperoleh nama “Eagle”, “Viper”, atau “Red Wolf” hanya karena nama tersebut terdengar hebat. Nama yang terlalu heroik bahkan dapat memancing rekan-rekannya untuk memberikan panggilan yang lebih jenaka. Setelah diterima oleh seluruh anggota skadron, call sign tidak lagi menjadi milik pribadi sepenuhnya. Ia menjadi identitas yang diberikan, diakui, dan dipelihara oleh komunitas.

BACA JUGA: 

Akar penggunaan call sign dapat ditelusuri hingga masa awal komunikasi radio. Ketika radio mulai digunakan secara luas dalam operasi militer pada awal abad ke-20, setiap stasiun, unit, dan unsur operasi membutuhkan identitas yang singkat. Penggunaan kode dapat mempercepat komunikasi sekaligus menyembunyikan identitas sebenarnya.

Pada Perang Dunia I, dan terutama Perang Dunia II, komunikasi antara pesawat serta antara pesawat dan pengendali di darat menjadi semakin penting. Formasi pesawat memerlukan kode tertentu agar perintah dapat diberikan tanpa menyebutkan nama penerbang, skadron, atau lokasi secara terbuka. Dari sinilah kemudian berkembang dua tradisi. Pertama, call sign resmi untuk kepentingan komunikasi dan operasi. Kedua, nama panggilan personal yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari sebuah skadron.

Di Amerika Serikat, budaya personal call sign sangat dikenal dalam komunitas penerbang tempur Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Korps Marinir. Film-film populer ikut membentuk kesan bahwa semua penerbang bebas memilih nama yang terdengar gagah. Kenyataannya, banyak nama justru diberikan oleh rekan satu satuan/skadron dan tidak selalu berhubungan dengan citra kepahlawanan.

BACA JUGA: 

Di negara-negara lain, tradisinya dapat berbeda. Sejumlah angkatan udara Eropa lebih sering menggunakan singkatan nama, nama keluarga, atau julukan lama. Di banyak negara Asia, tradisi penerbangan Barat berpadu dengan bahasa, kebudayaan lokal, sejarah satuan, dan karakter para penerbangnya. Artinya, sejarah call sign tidak berkembang melalui suatu tradisi yang seragam. Ia berawal dari kebutuhan teknis komunikasi, lalu tumbuh menjadi identitas penerbang dan simbol persaudaraan dalam skadron.

Call sign bukan milik eksklusif penerbang tempur. Pesawat angkut, helikopter, pesawat intai, tanker, patroli maritim, bahkan pesawat kepresidenan menggunakan radio call sign dalam penerbangan. Tanpa identitas yang jelas, komunikasi dengan pengatur lalu lintas udara, pusat komando, dan unsur operasi lainnya akan menjadi kacau.

Penerbang non-tempur juga dapat mempunyai nama panggilan personal apabila tradisi tersebut berkembang di satuannya. Hanya saja, budaya personal call sign memang paling terkenal dalam komunitas penerbang tempur. Tuntutan komunikasi yang sangat ringkas, risiko operasi, dan kuatnya ikatan antar penerbang membuat nama panggilan menjadi lebih menonjol.

BACA JUGA: 

Perbedaannya terletak pada kekuatan tradisi, bukan pada ada atau tidaknya call sign. Semua unsur penerbangan militer membutuhkan identitas komunikasi, tetapi tidak semua penerbang menjadikan nama panggilannya sebagai bagian dominan dari identitas publik.

Bagi saya, “Mustang” telah melampaui fungsi sebuah nama panggilan. Ia menyertai perjalanan saya menerbangkan F-86 Sabre, T-33, F-5 Tiger II, F-16 Fighting Falcon, hingga Pitts S-2C untuk aerobatik. Seekor Mustang tidak dilahirkan untuk selamanya berdiri diam di dalam kandang. Ia berlari menuju ruang terbuka, melawan angin, dan menemukan kebebasannya sendiri. Barangkali karena itulah “Mustang” menjadi nama yang tepat. Sebab sepanjang hidup, saya memilih langit sebagai tempat untuk menguji keberanian, kedisiplinan, kemampuan, dan sekaligus kebebasan.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya