Pesawat latih yang dijuluki “Shooting Star” itu, saya terbangkan pada saat pertama kali berdinas di Pangkalan TNI-AU (Lanud) Iswahjudi yang berada di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Pada 1979, setelah dinyatakan lulus dari Sekolah Penerbang (Sekbang) di Amerika Serikat (AS), saya langsung menjalani terbang transisi T-33 di Indonesia. Di Lanud Iswahjudi yang merupakan jantung pertahanan udara Indonesia, selama kurang lebih setahun, bersama dengan para penerbang lainnya yang juga baru lulus dari Sekbang Di AS maupun di Sekbang TNI-AU di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY);saya melakukan dua kali terbang konversi. Pertama kali menggunakan pesawat F-86 yang dijuluki “Sabre”, kedua berlatih terbang transisi dengan T-33 “Shooting Star”.
T-33 adalah pesawat tempur generasi pertama buatan Lockheed Martin, AS. Merupakan jet versi latih dari pesawat P-80 yang juga dijuluki “Shooting Star”. T-33 dikembangkan dari P-80 dengan struktur badan utama pesawat yang berbentuk tabung aerodinamis/fuselage yang diperpanjang. Sebagai bagian yang menampung kokpit dan mengintegrasikan berbagai komponen lain, mulai dari sayap hingga ekor, fuselage T-33 diperpanjang untuk dua kursi agar bisa ditempati instruktur dan siswa.
BACA JUGA:
Shooting Star adalah salah satu jet latih yang cukup sukses dalam sejarah penerbangan militer. Para penerbang tempur generasi awal pasca Perang Dunia II, dari negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara/North Atlantic Treaty Organization (NATO), dan negara-negara sekutu AS lainnya, berlatih terbang menggunakan T-33. Dalam kaitannya yang sangat erat dengan dinamika atau perkembangan kekuatan udara, Shooting Star dapat dijadikan pesawat latih penanda yang menjadi jembatan penting dari era baling-baling/propeller menuju ke mesin jet modern.
Sebagai pesawat latih jet/jet trainer tingkat lanjut/advanced jet trainer, T-33 bermesin turbojet Allison J33. Diawaki dua penerbang, kecepatannya mencapai 970 kilometer/jam, sehingga dapat dikategorikan sebagai subsonik tinggi. Mulai beroperasi pada 1948, beberapa dekade kemudian, bahkan hingga sekarang, pesawat masih dioperasikan oleh beberapa negara, meski secara terbatas.
Ada tiga hal penting yang perlu digarisbawahi terkait dengan T-33. Sebagai pintu masuk/entry point untuk menerbangkan pesawat-pesawat tempur generasi selanjutnya, Shooting Star melatih penerbang untuk memiliki dasar/basis menerbangkan pesawat tempur bermesin jet/ jet handling, kesadaran situasional/situational awareness hingga manajemen energi/energy management.
BACA JUGA:
Jet Handling
Baiklah, mari kita bahas satu per satu. Jet Handling bukan hanya sekadar kemampuan menerbangkan pesawat jet; selama 97 jam menerbangkan T-33, saya merasakan, berpikir dan membangun kompetensi hingga mengambil keputusan untuk melakukan berbagai manuver dalam kecepatan tinggi.
Kompetensi seorang penerbang dalam mengendalikan pesawat bermesin jet secara efisien, presisi dan tentu saja aman dalam seluruh selubung/envelope penerbangan dapat ditingkatkan dengan cepat di dalam kokpit pesawat. Karakteristik aerodinamis, respons mesin hingga dampak/implikasi energi juga harus selalu diperhitungkan dalam setiap manuver. Jet handling adalah keterampilan utama/main skill bagi seorang penerbang pesawat tempur/fighter aircraft.
Terbang transisi dari pesawat propeller ke mesin jet tidak hanya tentang kecepatan yang mengalami peningkatan, namun juga berkenaan dengan perubahan kerangka berpikir/paradigma. Ketika menerbangkan pesawat propeller, respons yang diterima mesin terjadi dalam waktu yang relatif cepat.
BACA JUGA:
Namun ketika menerbangkan pesawat bermesin jet seperti T-33, terjadi penundaan/lag yang cukup signifikan. Penerbang di kokpit dapat dipastikan akan sangat merasakan penundaan waktu antara instruksi yang disampaikan kepada mesin dan respons yang diberikan. Oleh sebab itu, penerbang harus berpikir jauh ke depan/visioner untuk mengantisipasi situasi/anticipatory flying. Mengapa demikian? Karena kesalahan, walaupun sangat kecil kemungkinan besar, bahkan dapat dipastikan akan terlambat untuk dikoreksi.
Di kokpit, sebagai penerbang yang sedang berlatih atau menjalani proses transisi, saya kembali teringat pesan yang pernah disampaikan instruktur penerbangan/flight instructor, pada saat masih menjadi siswa di AS. Dalam sebuah operasi, baik pada saat latihan maupun di medan tempur; Energi adalah kecepatan plus ketinggian. Karena itu pesawat yang kehilangan energi pasti lebih sulit untuk dipulihkan. Pesan sang Instruktur kepada para calon penerbang tempur yang tengah menempuh pendidikan di AS hanya satu kalimat yang terdiri dari tiga kata; “Energy is life”.
Karena pesawat tempur, terutama yang telah dilengkapi dengan mesin jet kecepatannya sangat tinggi, tingkat penutupan/closure rate meningkat drastis. Dalam dunia penerbangan, terutama penerbangan tempur, closure rate adalah kecepatan relatif ketika pesawat mendekati objek lain; bisa tanah/terrain, atau pesawat lain; baik pesawat kawan atau lawan, maupun sasaran yang telah diidentifikasi sebagai target serangan udara/air strike.
BACA JUGA:
Peningkatan closure rate, konsekuensi logisnya tentu saja pada penyempitan jendela keputusan/decision window. Waktu yang dimiliki penerbang tempur yang menerbangkan pesawat dari dalam kokpit menjadi lebih terbatas. Padahal sebelum keputusan diambil, penerbang harus terlebih dahulu menganalisis situasi, sebelum akhirnya membuat keputusan dan mengambil tindakan/action; apakah harus menembak dengan senapan mesin, meluncurkan rudal, bermanuver atau menghindar.
Ternyata banyak sekali yang harus dijelaskan terkait jet handling. Namun artikel singkat ini harus diakhiri disini. Editor artikel-artikel di website pribadi/personal website selalu mengingatkan jika menulis untuk dipublikasikan di situs pribadi artikel sebaiknya hanya terdiri dari 700 sampai 1000 kata. Pada artikel selanjutnya, saya berjanji akan menjelaskan dengan lebih detail terkait dengan poin jet handling dan kesadaran situasional/situational awareness serta manajemen energi/energy management.{}




