Berpose di depan F-86 SabreJet. Sumber: Koleksi Pribadi.
105 Jam Menerbangkan F-86 Sabre

Date

Pada waktu pulang ke Indonesia, setelah berhasil meraih gelar undergraduate Pilot Training di Amerika Serikat (AS), saya langsung diberi kepercayaan sebagai Perwira Penerbang Wing Buru Sergap Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas).

Sejak Indonesia merdeka pada 1945 hingga kini, para penerbang tempur/fighter pilot Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU) yang juga dikenal sebagai elang-elang muda Angkatan Udara ditempatkan atau bermarkas di Pangkalan TNI-AU (Lanud) Iswahjudi.

Di Lanud yang berada di Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, saya menghabiskan hampir dua dekade dari masa dinas. Sejak pulang dari menempuh pendidikan di Amerika Serikat (AS) pada 1978, di Wing 300, Lanud Iswahjudi, yang juga dikenal dengan julukan “Home of Fighters”, selama 105 jam, saya menerbangkan F-86. Sebagai penerbang yang telah berhasil meraih Undergraduate Pilot Training di AS yang dijuluki Negeri “Paman Sam”, tentu saja saya tahu benar sejarah maupun karakteristik pesawat yang akan diterbangkan.

Tidak hanya para pilot tempur lulusan AS, semua penerbang harus mengetahui dengan detail pesawat yang akan diterbangkan. Tidak berlebihan jika dianalogikan bahwa pesawat adalah pasangan hidup atau bahkan istri kedua bagi penerbang. Masa depan kariernya, bahkan hingga hidup dan matinya sangat ditentukan oleh pesawat yang diterbangkannya selama berdinas; baik penerbang militer yang menerbangkan pesawat tempur maupun angkut hingga penerbang sipil yang menerbangkan pesawat komersial.

BACA JUGA:

Battle Proven

Usai Perang Dunia Kedua berakhir, AS bersama dengan negara-negara sekutunya yang menjadi pemenang membentuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara/North Atlantic Treaty Organization (NATO). Dalam perkembangannya, negara-negara anggota NATO yang terdiri dari 30 negara di kawasan Amerika Utara dan Benua Eropa, dikenal dengan Blok Barat. Sementara Uni Soviet yang juga merupakan negara pemenang Perang Dunia Kedua juga membentuk Pakta Warsawa bersama negara-negara sekutunya yang kemudian dikenal sebagai Blok Timur. Persaingan antara Blok Barat dengan Blok Timur yang dikenal dengan Perang Dingin terjadi di semua lini, mulai dari ideologi, perdagangan hingga persenjataan, termasuk pesawat tempur.

Dunia seperti terbelah menjadi dua akibat perang dingin. Di daratan Asia belahan timur, lima tahun pasca Perang Dunia Kedua, Perang Korea pecah pada 1950. Perang saudara antara Korea Selatan dengan negara tetangganya di Korea Utara, menjadi ajang uji kekuatan persenjataan antara Blok Barat yang dipimpin oleh AS dengan Blok Timur yang dinahkodai oleh Uni Soviet atau United of Soviet Socialist Republic (USSR). Di langit Korea, F-86 Sabre produk AS berhadapan dengan MiG 15 buatan USSR.

Sebagai dua pesawat tempur legendaris generasi pertama, menjadi sangat menarik untuk mempelajari dengan cermat pertarungan di udara yang dikenal dengan dogfight di langit Korea. F-86 Sabre memang telah berperan sebagai tulang punggung (backbone) Angkatan Udara AS/ United States Air Force (USAF) di Perang Korea. Secara spesifik, F-86 memang dikembangkan untuk berhadapan di udara dengan MiG-15; selama Perang Korea berkecamuk sejak 1950 hingga akhirnya dilakukan gencatan senjata pada 1953. Selama tiga tahun sejak 1950 hingga 1953, North American Aviation terus menerus memproduksi F-86 Sabre. Produksi dimulai pada akhir 1940-an, tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 1947, penerbangan perdana berhasil dilakukan.

BACA JUGA:

Pesawat yang dirancang untuk memiliki kecepatan dan keunggulan di udara (air superiority) dilengkapi dengan sayap swept-wing, yang dapat memberikan kestabilan dan performa yang baik pada kecepatan tinggi. F-86 juga dilengkapi dengan mesin General Electric J47 yang memiliki performa maksimal ketika diterbangkan. Sabre yang dipersenjatai dengan senapan mesin M3 0.50 cal dan rudal udara-ke-udara AIM-9 Sidewinder memiliki keunggulan dalam kecepatan dan kekuatan persenjataan.

Setelah teruji dalam berbagai pertempuran (battle proven) di langit Korea, Sabre mengalami berbagai pengembangan dan peningkatan ketika dioperasikan oleh USAF. Beberapa varian, seperti F-86D dan F-86E, dilengkapi dengan perangkat pencegat malam (night interceptor) sehingga dapat diterbangkan untuk melakukan berbagai misi pada malam hari.

Selain USAF, beberapa negara yang mengoperasikan Sabre sebagai pesawat tempur pengintai (reconnaissance aircraft), mulai dari Australia, Norwegia, Turki, Filipina hingga Peru di Amerika Selatan. Masih banyak negara-negara selain yang telah disebutkan mengoperasikan pesawat yang juga dikenal dengan “sabrejet” sebagai backbone angkatan udaranya setelah terbukti mampu menghadapi MiG-15 di Perang Korea.

BACA JUGA:

Jet tempur F-86 yang diberi julukan Sabre dan dioperasikan oleh TNI-AU merupakan hibah dari Pemerintah Australia. Sebanyak 16 unit Sabre dihibahkan oleh pemerintah negara kangguru yaitu CAC Sabre atau CA-26, merupakan salah satu varian F-86 yang diproduksi Australia setelah memperoleh lisensi dari AS pada 1953. Sabrejet yang dioperasikan TNI-AU, seingat saya, kalau tidak salah dilengkapi dengan Avon Engine; merupakan mesin turbojet aliran aksial pertama. Dirancang sekaligus diproduksi oleh Rolls-Royce, mesin yang dirilis pada 1950, sangat berhasil dioperasikan oleh pesawat militer maupun komersial pasca Perang Dunia Kedua. 

F-86 Sabre adalah pesawat tempur generasi pertama yang ikonik. Jet tempur generasi pertama mulai dikembangkan setelah Perang Dunia Pertama berakhir pada akhir 1945 hingga awal tahun 1950-an. Karakteristik dari generasi pertama jet tempur menandai proses transisi dari pesawat tempur (fighter aircraft) bermesin piston ke jet. Tentu saja pergeseran signifikan dari mesin piston ke jet sangat berdampak pada kecepatan dan kinerja pesawat yang jauh lebih baik.

Sayap penyapu (swept-wing) yang terpasang di beberapa pesawat jet tempur generasi pertama, salah satunya adalah F-86 mampu meningkatkan kecepatan dalam waktu singkat sekaligus memungkinkan Sabre melakukan manuver dengan kecepatan tinggi. Selain itu, persenjataan pesawat juga dilengkapi dengan peluru kendali atau rudal udara ke udara (air to air) pertama selain senjata konvensional seperti senapan mesin.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya