F-16 TNI-AU di Lanud Iswahjudi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Sumber: Koleksi Pribadi.
8,5 Jam Pertama di Kokpit F-16 Fighting Falcon

Date

Di buku catatan penerbang/log book yang masih tersimpan rapi hingga kini, tercatat saya menerbangkan jet tempur F-16 Fighting Falcon selama 500 jam.

Selama menerbangkan jet tempur generasi keempat Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU) itu, yang cukup berkesan adalah pada saat menjalankan operasi pengiriman Fighting Falcon dari pabriknya di Amerika Serikat (AS) menuju Pangkalan TNI-AU Iswahjudi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Pada Mei 1990, bersama dengan senior saya; Letnan Kolonel Penerbang (Pnb.) Wartoyo; seorang penerbang tempur/fighter pilot TNI-AU lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) bagian Udara tahun 1971; kami berdua ditugaskan untuk di kursi belakang/back seat F-16; yang telah diakuisisi Pemerintah Republik Indonesia dari perusahaan produsen alat utama sistem senjata (Alutsista) AS. Perusahaan produsen pesawat tempur itu dahulu masih bernama General Dynamics. Namun kini namanya telah berubah menjadi Lockheed Martin. Lokasi pabrik yang menjadi basis produksi Lockheed berada di Dallas-Fort Worth.

Misi dimulai dari Dallas Fort-Worth. Dua unit F-16 B berkursi ganda akan mulai lepas landas/take off dari salah satu pintu gerbang penerbangan tersibuk di dunia yang menghubungkan penerbangan domestik maupun internasional. Karena pesawat masih berada dalam tanggung jawab Angkatan Udara AS/United States Air Force (USAF), maka Pilot in Command yang duduk di kursi depan adalah penerbang tempur/fighter pilot USAF.

BACA JUGA:

Saya yang setahun sebelumnya telah berhasil lulus dari program F-16 Conversion and Instructor Course, duduk di kursi belakang. Dari kursi belakang itulah, saya mempelajari dengan seksama bagaimana para penerbang tempur USAF menerbangkan Fighting Falcon dari satu tempat ke tempat lain. Pada penerbangan feri/ferry flight, misi didukung oleh pesawat tanker, yang seingat saya, kalau tidak salah juga lepas landas dari bandara yang sama yaitu Dallas-Fort Worth. Rute pertama yang ditempuh setelah lepas landas/take off dari landasan Dallas- Fort Worth adalah Honolulu.

Air Refuelling

Fighting Falcon bertemu pertama kali dengan pesawat tanker KC-10 menjelang keluar dari wilayah benua/kontinental AS yang dijuluki Negeri Paman Sam. Pengisian bahan bakar dari pesawat tanker KC-10 ke F-16 Fighting Falcon menggunakan sistem boom. Metode pengisian bahan bakar di udara/aerial refueling menggunakan pipa teleskopik. Refuelling dikendalikan oleh operator di dalam pesawat tanker untuk untuk mentransfer bahan bakar ke tangki pesawat tempur/fighter aircraft.

BACA JUGA:

Selama penerbangan fase pertama dari Dallas ke Honolulu, penerbang USAF menggunakan Midway yang berada di tengah Samudra Pasifik sebagai alternate base. Pada penerbangan jarak jauh yang melintasi wilayah luas seperti Samudra Atlantik, alternate base digunakan sebagai titik perhentian sementara untuk pengisian ulang bahan bakar/refuelling dan pengecekan teknis.

Pada penerbangan dari Texas ke Honolulu, kurang lebih F-16 menjalani delapan kali air refuelling. Pada saat indikator bahan bakar/fuel berada di bawah kebutuhan ke Midway, Fighting Falcon, langsung diisi ulang. Pengisian ulang dilakukan agar misi dapat digelar dengan selamat sesuai jadwal dan pesawat dapat mendarat dengan selamat di Honolulu.

Selama di Honolulu, penerbang; baik yang duduk di kursi depan/front seat maupun kursi belakang/back seat harus beristirahat selama 36 jam atau 1,5 hari. Begitulah persyaratan dari USAF diberlakukan terhadap para penerbang tempur yang telah menerbangkan pesawat selama 8,5 jam.

BACA JUGA:

Proses Pengadaan

Dua atau tiga tahun sebelumnya, antara 1986 hingga 1987, proses pengadaan F-16 Fighting Falcon untuk TNI-AU diinisiasi Pemerintah Republik Indonesia melalui Proyek Bimasena. Bersamaan dengan dimulainya proyek yang dikepalai oleh Marsekal Pertama (Marsma) TNI Sudjatio Adi, dimulai proses seleksi yang digelar untuk para teknisi hingga penerbang F-16. Setelah melalui serangkaian tes yang ketat, para teknisi dan empat penerbang tempur TNI-AU dinyatakan lolos seleksi dan kemudian dikirim ke Negeri Paman Sam.

Selama delapan hingga sepuluh bulan, pendidikan untuk teknisi yang akan menjalankan tugas untuk melakukan pemeliharan F-16 di Indonesia dan empat penerbang yang akan menerbangkan Fighting Falcon menjalani pendidikan. Mereka, dimana saya adalah salah satu di antara keempat penerbang itu menjalani pendidikan di Skadron 311, Luke Air Force Base (AFB) yang terletak di Maricopa County, Negara Bagian Arizona. Luke AFB adalah Pangkalan pelatihan utama Komando Pendidikan dan Pelatihan Angkatan Udara AS, dimana skadron F-16 USAF ditempatkan.

Di tengah teriknya gurun pasir itulah, para teknisi dan keempat penerbang tempur TNI-AU yaitu  Letkol (Pnb.) Wartoyo, Mayor (Pnb.) Basri Sidehabi dari letting/angkatan 1974, Mayor (Pnb.) Rodi Suprasodjo dan Mayor (Pnb.) Eris Herryanto, berlatih keras setiap hari menerbangkan F-16. Namun kerasnya latihan sama sekali tidak membebani kami, mengingat ada tanggung jawab yang diamanatkan kepada kami berempat. Tanggung jawab itu adalah mengajarkan junior-junior kami di Indonesia agar mampu menerbangkan Fighting Falcon untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di udara.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya