Ilustrasi Masakan Indonesia. Sumber: Pexels.com
Tips dan Trik Menikmati Hidup Serta Menjaga Stamina di Usia 71

Date

Pada saat genap berusia 71 tahun, tanggal 5 Januari 2026 lalu, ketika terbangun di pagi hari yang cerah, saya langsung berjalan menuju ke timbangan digital yang terletak tidak jauh dari tempat tidur di dalam kamar. Alhamdulillah, angka di timbangan menunjukkan jumlah/nominal yang sama dengan usia saya: 71.

Setelah bertanya pada kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI), melakukan penelitian/riset ala kadarnya dengan bantuan mesin pencari/search engine, dan tentu saja untuk memverifikasi bertanya kepada dokter; dengan tinggi 172 Centimeter (Cm), berat badan saya ternyata masih termasuk dalam kategori ideal. Memiliki tinggi dan berat badan yang sesuai/ideal tentu saja sangat memudahkan untuk menjalani berbagai aktivitas tanpa terkendala usia.

Sebagai karunia yang sangat berharga dari Sang Pencipta, menjaga kesehatan dengan merawat tubuh agar sesuai dengan proporsinya, adalah salah satu bentuk rasa syukur yang dapat dilakukan secara konkret oleh manusia. Seingat saya, selama 71 tahun menjalani hidup, tidak pernah pernah sekalipun mengalami kegemukan/overweight atau terlalu kurus/underweight. Padahal kota kelahiran saya di Bogor, Jawa Barat, maupun daerah tempat saya dibesarkan di Kudus, Jawa Tengah; dikenal memiliki menu masakan tradisional yang sangat menggugah selera.

Baca Juga:

Di Bogor, yang dijuluki Kota Hujan, lidah saya telah merasakan betapa nikmatnya soto kuning, asinan, laksa, tauge goreng, hingga doclang, dan dodongkal. Sedangkan di Kudus, yang dikenal dengan kota kretek, berbagai masakan khas juga saya nikmati; mulai dari soto Kudus yang legendaris karena menggunakan daging kerbau/ayam sebagai pengganti daging sapi, hingga jenang Kudus yang manis-legit dan selalu menggugah selera. Selain itu masih ada lentog tanjung, nasi pindang hingga sate kerbau yang kenikmatan rasanya sangat disayangkan apabila dilewatkan ketika berkunjung atau pulang kampung.

Itu baru Bogor dan Kudus, belum lagi berbagai makanan enak di berbagai daerah tempat saya pernah bertugas ketiga masih berdinas di Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU). Lezatnya pecel di Jawa Timur menjadi menu andalan hampir setiap hari ketika masih berdinas hampir 20 tahun sebagai penerbang di Pangkalan TNI-AU (Lanud) Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur.

Begitu juga gulai ikan patin, sop tunjang hingga mie sagu di Pekanbaru rasanya hari ini juga tidak bisa saya lupakan. Selama dua tahun, sejak 1999-2001, pada saat diberi kepercayaan sebagai Komandan Lanud (Danlanud) Roesmin Nurjadin, Pekanbaru; berbagai kuliner Melayu dengan aroma rempah yang kuat menusuk hidung sekaligus membangkitkan selera, selalu tersedia di meja makan di dalam ruang kerja. Masih banyak sekali cerita tentang berbagai masakan khas dari berbagai daerah di Indonesia. Jika ada kesempatan, pada saat yang tepat, saya akan menuliskannya satu per satu dalam artikel-artikel singkat di website pribadi.

Baca Juga:

Satu pertanyaan yang selalu disampaikan oleh teman-teman, kolega bahkan keluarga terdekat adalah; bagaimana menjaga berat badan tetap ideal meski menyantap berbagai masakan dari berbagai daerah di Indonesia yang terkenal dengan kelezatannya? Penjelasan di bawah ini akan mencoba untuk menjawabnya.

***

Pada saat terbang aerobatik di Pusat Pendidikan Kedirgantaraan Gerakan Pramuka (Pusdirga), Jakarta Timur, setiap akhir pekan di Sabtu pagi, para pengurus selalu memberi saya makanan yang dikukus; mulai dari jagung, ubi, hingga pisang dan kacang kedelai. Banyak yang mengira setiap hari seperti itulah menu makan pagi/sarapan, makan siang dan makan malam saya.

Tetapi dugaan itu salah besar. Saya selalu memakan apa yang disediakan di hadapan saya. Kalau dihidangkan nasi Padang, tentu saya makan dengan lahap. Jika disediakan gudeg Yogya, pasti saya makan dengan penuh kenikmatan. Begitu juga dengan hidangan ala Betawi seperti nasi uduk dan lontong sayur, juga pasti saya santap.

Jika semua makanan tersebut dikaitkan dengan tips menjaga berat badan agar tidak overweight, maka jawabannya adalah berhenti sebelum kenyang. Memperhatikan pola makan adalah salah satu gaya hidup yang harus selalu dijaga. Boleh saja mengonsumsi berbagai makanan, tetapi dengan porsi yang tepat dan tidak berlebihan. Itulah strategi selama 71 tahun yang saya terapkan secara konsisten.

Baca juga:

Hampir semua orang tahu mana makanan yang baik maupun tidak untuk dikonsumsi, namun karena tidak bisa mengatur menu apa yang akan disajikan, baik untuk makan pagi, siang atau malam; maka satu-satunya yang bisa dilakukan adalah makan secukupnya; tidak sampai kenyang.

Ketika merasa cukup, saya langsung berhenti; baik makanan itu enak atau tidak, saya suka atau kurang suka. Memang, salah satu cara menikmati hidup adalah menyantap makanan; namun harus tahu bagaimana mengendalikannya. Jika bisa mengendalikan nafsu makan, maka kesehatan dan tubuh yang proporsional adalah konsekuensi atau hasil yang akan diterima di kemudian hari.

Selain pola makan, yang juga tidak kalah penting dalam menjalani kehidupan adalah istirahat. Menjaga stamina agar tetap fit sehingga dapat beraktivitas dengan baik sangat erat kaitannya dengan istirahat. Terus terang, kebiasaan di Akademi Angkatan Udara (AAU) masih saya terapkan hingga hari ini yaitu tidur tujuh sampai delapan jam sehari. Seiring bertambahnya usia memang kuantitas tidur malam semakin berkurang, namun harus diusahakan minimal tujuh jam sehari. Itu sudah sangat bagus. 

Baca Juga:

Selain kuantitas tidur, juga harus diupayakan waktu yang tepat untuk memulainya. Di AAU, yang ketika saya masih menjadi taruna masih bernama Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) bagian Udara, saya dan para taruna lainnya dibiasakan untuk tidur malam maksimal pukul 22.00.

Mengapa demikian? Karena pada saat malam tiba, tubuh kita melakukan detoksifikasi. Pada saat beristirahat, fungsi detoks berjalan; proses alami untuk menetralisir dan membuang zat-zat beracun di dalam tubuh berupa sisa metabolisme yang berbahaya dilakukan melalui hati, ginjal. paru-paru, usus hingga kulit. Jika itu berjalan dengan baik sesuai dengan fungsinya, maka ketika bangun tidur di pagi hari, kondisi tubuh dapat dipastikan akan segar bugar dan siap beraktivitas.

Namun seiring bertambahnya usia, pada saat ini saya sering terganggu dengan aktivitas buang air kecil ke toilet di tengah tidur malam. Pada dini hari, ketika terbangun saya pernah melihat jam dinding di dekat tempat tidur menunjukkan pukul 03.15. Beruntung sekali setelah ke toilet, bisa langsung kembali tidur, jadi tidak terlalu lama terjaga.{} 

Share this

Baca
Artikel Lainnya