Pada 5 Januari 2026, saya genap berusia 71 tahun. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) mengklasifikasikan seseorang yang berusia di atas 65 tahun ke dalam kategori Lanjut Usia (Lansia).
Setiap kali berulang tahun, pertama kali yang selalu saya lakukan adalah menghaturkan rasa syukur kepada Sang Pencipta; yang selalu memberi kesempatan untuk hidup lebih lama di dunia. Kedua, saya selalu menyampaikan ucapan terima kasih kepada keluarga; mulai dari istri, anak-anak, termasuk menantu hingga cucu-cucu yang membuat hidup menjadi lebih indah.
Sebuah kata kunci utama yang selalu harus diingat dalam menjalani hari-hari, melewati pekan-pekan, melampaui bulan-bulan hingga menuju ke usia yang baru adalah kesehatan. Selain bersyukur kepada Sang Pencipta, yang perlu, bahkan harus harus dilakukan oleh seorang manusia tentu saja adalah menjaga kesehatan.
Agar pada saat merayakan ulang tahun di usia berapa pun, kita dapat selalu bersyukur, sambil mengucapkan dengan perlahan di dalam hati jika usia tidak lebih dari sekadar deretan angka; maka perkara pertama sekaligus yang utama yang selalu harus diprioritaskan dalam hidup, sekali lagi adalah kesehatan
Baca Juga:
.
Dalam rangka menjaga kesehatan, pertama kali yang harus diketahui adalah kondisi kesehatan kita masing-masing sebagai individu. Oleh sebab itu, harus selalu disediakan waktu, sekali dalam setahun untuk melakukan tes kesehatan/medical check-up. Hasil check-up pasti berbeda satu sama lain. Baru kemudian, setelah kondisi kesehatan berhasil diidentifikasi kekurangan dan kelebihannya, maka kekurangan yang telah diketahui harus segera diperbaiki, tentu berdasarkan saran dan petunjuk dari tenaga medis yaitu dokter.
Hal kedua yang perlu dilakukan adalah terkait erat dengan pola atau gaya hidup. Menurut saya pribadi, jadi apa yang dikemukakan dalam artikel ini belum tentu benar atau cocok diterapkan oleh orang lain; pola hidup itu ada tiga. Pertama; menjaga kebugaran dengan berolahraga secara rutin. Kedua; mengatur pola makan. Ketiga atau terakhir namun tidak kalah penting/last but not least adalah istirahat.
Baca juga:
Ketiga hal itu harus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan; kurang lebih sama dengan menarik dan mengembuskan napas. Artikel singkat berikut ini akan membahas sekilas tentang menjaga kebugaran tubuh atau stamina. Sedangkan tentang mengatur pola makan dan istirahat akan dibahas dalam dua artikel selanjutnya. Berikut bagian pertama dari tiga artikel terkait strategi menjaga kesehatan di usia kepala tujuh.
***
Dalam rangka menjaga kebugaran tubuh, ada tiga hal yang harus dikedepankan. Pertama menjaga stamina, kemudian menjaga kekuatan dan terakhir adalah menjaga refleks. Mengenai stamina yang terkait erat dengan jantung dan pembuluh darah, olahraga yang dapat dilakukan contohnya adalah lari, berenang dan bersepeda untuk menjaga stamina dan kesehatan jantung serta pembuluh darah. Saat ini yang dapat saya kerjakan adalah kombinasi antara berlari dan joging. Dalam waktu satu minggu, saya rutin melakukannya selama empat kali di pagi hari. Sekali joging, jarak yang ditempuh mencapai lima kilometer (Km).
Kedua, membahas tentang kekuatan/strength, tidak ada pilihan selain olahraga angkat beban/weightlifting. Angkat beban dapat dilakukan di pusat kebugaran/gym maupun di rumah. Namun yang jauh lebih penting dibanding melakukan aktivitas di gym atau rumah adalah otot yang ingin dilatih; biseps atau triceps? Selain itu, otot punggung/back, dada/chest hingga kaki/leg juga harus dilatih secara rutin sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Baca juga:
Membahas tentang kekuatan, yang perlu untuk diingat sekaligus dilakukan adalah tidak mengutamakan berat beban yang harus diangkat; namun pengulangan/repetisi yang harus diterapkan. Jika ditanyakan berapa berat beban maksimal yang dapat diangkat? Maka jawabannya adalah tidak boleh melampaui 80 persen dari berat beban maksimal yang mampu kita angkat.
Contohnya ketika mengangkat barbel, harus disesuaikan dengan berat badan dan kemampuan; selain itu, yang tidak kalah penting adalah repetisinya harus dihitung dengan cermat. Kalau hanya bisa delapan kali, maka cukup delapan kali saja; setelah selesai satu sesi, dapat beristirahat sejenak, kurang lebih selama satu menit, baru kemudian barbelnya diangkat lagi. Cukup tiga kali repetisi dalam satu gerakan.
Setelah stamina dan kekuatan, hal terakhir atau ketiga yang harus dilakukan adalah menjaga refleks. Sebagai gerakan otomatis/aksi yang merupakan respons yang diberikan tubuh terhadap reaksi dari luar, ada beberapa olahraga yang dapat dilakukan, antara lain bulu tangkis/badminton dan tenis lapangan.
Baca juga:
Namun bagi yang sudah memasuki fase lansia, seperti saya yang sudah berusia 71, yang dapat dilakukan secara rutin adalah tenis meja/pingpong. Tidak seperti badminton atau tenis, pingpong adalah aktivitas yang tidak terlalu menguras stamina di satu sisi. Namun di sisi lain, menurut beberapa artikel yang saya baca, dan perbincangan dengan rekan-rekan yang rutin berlatih tenis meja bersama; pingpong justru lebih membutuhkan konsentrasi. Mengapa demikian? Karena ukuran lapangan/meja serta bola yang lebih kecil dibanding bola tenis maupun kok/shuttlecock yang dipergunakan dalam permainan bulu tangkis menuntut konsentrasi yang lebih besar dibanding badminton atau tenis lapangan.
***
Oh ya, jangan lupa, menjadi lansia bukan berarti harus hidup manja, apalagi merepotkan orang lain atau anggota keluarga. Mengendarai sepeda motor dan menyetir mobil juga aktivitas yang dapat dilakukan untuk melatih refleks.
Jadi, jika masih mampu atau dapat melakukannya seorang diri, jangan terlalu mengandalkan sopir/pengemudi pada saat mengemudikan mobil. Sekali-kali ambil alih kemudi dari tangan sopir/driver agar tidak kehilangan keterampilan/skill mengemudikan mobil di jalan raya.
Baca juga:
Begitu juga dengan sepeda motor, jangan selalu membonceng di jok bagian belakang. Hingga hari ini, Saya masih mengendarai sepeda motor, minimal sekali dalam sepekan untuk melatih refleks, agar tidak kehilangan insting atau naluri yang dimiliki sejak usia muda. Tentu saja, mengendarai mobil maupun sepeda motor harus dilakukan dengan ekstra hati-hati di umur yang tidak lagi muda; karena usia tentu saja tidak akan berdusta.
Selain mengendarai sepeda motor dan mobil, ada satu hal yang rutin saya lakukan setiap minggu; terbang aerobatik di Pusat Kedirgantaraan dan Gerakan Pramuka (Pusdirga) yang terletak di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.{}




