Selama 12 hari, terhitung sejak 26 Oktober hingga 6 November 2025, bersama istri saya, Widjati Harsasi; kami berdua diberi kesempatan untuk menjelajahi Antartika. Sejak pesawat yang kami tumpangi lepas landas/take off dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, saya dan istri yang duduk berdampingan, tak henti-hentinya bercerita satu sama lain. Meskipun kami berdua tinggal serumah di Jakarta Timur seperti layaknya sepasang suami-istri, waktu untuk berbicara berdua sepertinya terasa masih kurang, meski kami sudah hampir 45 tahun berumah tangga.
Sebagai seorang suami, kesibukan saya dalam bekerja memang sering mengurangi waktu kami untuk berduaan. Bahkan dalam suatu kesempatan, istri saya pernah mengingatkan jika kesibukan saya setelah pensiun justru lebih padat dibanding pada saat masih berdinas di Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU).
Di dalam kabin pesawat, selama menempuh perjalanan udara dari Jakarta ke Santiago de Chile, Ibu Kota Chili, kami sering tersenyum simpul bahkan tertawa kecil ketika mengingat-ingat perjalanan hidup yang telah kami lalui berdua.
Baca juga:
Selama kurang lebih 21 jam dalam perjalanan udara, kami berusaha menata ulang ingatan tentang perjalanan hidup yang telah kami lalui berdua. Terkadang dalam upaya menata ulang/rekonstruksi tersebut, saya yang lupa dan istri yang mengingatkan. Begitu juga sebaliknya, jika istri yang lupa maka saya yang akan mengingatkan.
Namun terkadang dalam beberapa peristiwa, tidak jarang kami justru sama-sama lupa dan berakhir dengan dengan saling mengingatkan atau bahkan juga sesekali saling menyalahkan, sebelum akhirnya ditutup dengan senyum simpul dan canda tawa. Ya, selama menjalani biduk rumah tangga, kami berdua memang seringkali berbeda pendapat, namun setelah berbicara dari hati ke hati satu sama lain, kesepakatan pasti tercapai antara kami berdua.
Sepulang dari menempuh Sekolah Penerbang (Sekbang) di Amerika Serikat (AS); pada 1979, saya mulai menjalankan tugas sebagai perwira penerbang di Satuan Buru Sergap , Pangkalan TNI-AU (Lanud) Iswahjudi, yang terletak di Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Pada saat bertugas di Wing 300 itu, saya menerbangkan pesawat tempur buatan AS yaitu T-33 yang dijuluki Shooting Star.
Baca juga:
Pada saat bertugas di Lanud yang juga dikenal sebagai “Jantung Pertahanan Udara Indonesia” itulah, saya mengakhiri masa lajang dengan menikahi Widjati yang selalu saya panggil “Wid” pada 1981. Setelah berkeluarga, masih di Lanud/Home Base para penerbang tempur TNI-AU yang dijuluki “Home of Fighters” itu; pada 1985 saya diberi penugasan sebagai komandan atau Danfightops A Flightlat Skadron Udara (Skadud) 14, Wing 3.
Kemudian, selama dua tahun, terhitung sejak 1986 hingga 1988, masih di Lanud yang terletak di kaki Gunung Lawu, sebuah gunung yang berada di perbatasan Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dengan Jatim, saya melanjutkan tugas sebagai Danflightops B Flightlat Skadud 14 Wing 3. Setelah menjalankan tugas sebagai Danflightops A dan B di Skadud dan Wing serta Lanud yang sama selama 12 tahun; pada 1988 hingga 1989, selama kurang lebih setahun, saya kembali ditunjuk sebagai Danfightops C Flightlat Skadud 14 Wing 3.
Jadi selama kurang lebih empat tahun, sejak 1985 hingga 1989, saya diberi kepercayaan oleh Markas Besar (Mabes) TNI-AU di Jakarta sebagai komandan operasi di jantung pertahanan udara nasional. Sebuah penugasan yang sangat membanggakan. Namun tentu saja peran istri saya sangat penting pada saat saya menjalankan tugas. Tanpa dukungannya sebagai pendamping setia, tidak mungkin saya dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.
Baca juga:
Pada 1992 hingga 1996, selama empat tahun, akhirnya saya diberi amanah untuk menjalankan tugas sebagai Komandan Skadron 14. Di skadron yang pada waktu itu mengoperasikan pesawat tempur F-5 Tiger, saya mempelajari bagaimana memimpin dan menjalankan operasi dengan teliti. Pada kesempatan yang lain, saya akan menceritakan dengan detail dalam artikel khusus tentang bagaimana mengelola operasi penerbangan di skadron.
Namun satu hal yang masih sangat berkesan hingga kini adalah penugasan yang diberikan pada 1989. Ketika itu, bersama dengan tiga penerbang tempur TNI-AU yang juga bertugas di Lanud Iswahjudi, saya diberi kesempatan untuk mengambil pesawat tempur legendaris F-16 dari AS. Penerbangan dari AS menuju Iswahjudi di dalam kokpit pesawat tempur yang dijuluki Fighting Falcon tersebut rencananya juga akan saya ceritakan dalam sebuah artikel tersendiri. Tetapi yang jelas, F-16 Fighting Falcon yang merupakan pesawat tempur generasi keempat sekaligus menjadi simbol dimulainya modernisasi pesawat tempur TNI-AU yang beroperasi di Lanud Iswahjudi.
Oh ya, ketiga putra saya, yaitu Andhu Pakerti, Bagas Ardhadirgha dan Cendra Perkasa juga dilahirkan pada saat saya bertugas di Iswahjudi. Namun dalam penerbangan ke Chili, pada saat hendak bertanya bagaimana kabar dan kapan terakhir kali kami berkomunikasi dengan anak-anak dan cucu-cucu kami, ketika menoleh ke samping, saya melihat istri tengah tertidur. Tentu saja saya tidak sampai hati untuk membangunkannya.
Baca juga:
Pada ketinggian lebih dari 40 ribu kaki, di atas langit yang cerah, sambil melihat ke kaca jendela pesawat, saya menarik napas panjang. Ucapan syukur terucap di dalam hati; sejak masih berusia kepala dua hingga telah berumur kepala tujuh, saya telah ditemani perempuan yang menjadi cinta pertama sekaligus terakhir dalam hidup yang penuh dengan cerita.{}




