Caption: Ilustrasi lari lintas alam/cross country. Sumber: Pixabay.
Filosofi Seorang Pelari Lintas Alam

Date

Sejak menjalani pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) bagian Udara, saya telah bergabung dengan tim lari lintas alam/cross country.

Sebagai taruna AKABRI Udara yang kini bernama Akademi Angkatan Udara (AAU), sekali dalam sepekan, setiap hari Minggu, bersama dengan para taruna AAU lain yang juga memilih cross country sebagai aktivitas yang dipilih untuk diikuti di akademi; kami berlari sambil menggendong ransel serta menyandang senjata. 

Di AAU yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kami berlari menyusuri bukit-bukit di kawasan Piyungan, Kabupaten Bantul. Di jalur strategis yang menghubungkan kota Yogyakarta dan kawasan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul itu, kami berlari bersama-sama setiap minggu pagi. Jarak yang ditempuh bisa mencapai belasan kilometer. Meski tidak seperti full marathon yang jaraknya lebih dari 42 kilometer, namun medan yang mendaki memberikan tantangan tersendiri. 

Sebelum matahari terbit, para taruna telah berbaris di AAU dan mempersiapkan berbagai perbekalan, terutama air minum. Seingat saya, kami tidak sempat untuk sarapan terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas berlari; jadi hanya makan roti atau snack dan kue-kue kecil. Pengalaman dan pelajaran dari para senior yang lebih dahulu mengikuti kegiatan berlari di luar ruangan/outdoor mengajari kami semua para peserta lebih baik berlari dengan perut kosong atau diisi makanan kecil/snack daripada terlalu kenyang karena makan nasi dengan lauk pauk sebagai menu sarapan.

Baca juga: 

Tak hanya menyusuri perbukitan, kami juga berulang kali menjelajahi kaki Gunung Merapi yang terletak di utara Yogyakarta. Titik start diawali di depan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Pakem yang terletak di daerah Kaliurang yang terkenal dengan hawa dinginnya di pagi hari. Agar tidak kedinginan, kami seringkali mengakalinya dengan berlari tanpa henti agar keringat mengucur deras dan suhu tubuh terasa hangat. Namun seringkali strategi itu kurang berhasil karena seiring dengan naiknya ketinggian/elevasi di kaki Gunung Merapi, maka konsekuensinya suhu udara kian bertambah dingin.


Meski berlari bersama-sama dengan teman-teman di AAU, mulai dari senior dan seiring berjalannya waktu juga para junior, bagi saya; berlari sifatnya sangat pribadi/personal. Tanpa perlu tergesa-gesa mencapai tujuan/garis finish, saya sangat menikmati setiap derap atau langkah kaki sambil terus menerus berusaha mengatur setiap tarikan dan embusan napas.   

Selain mengatur napas, yang harus diperhatikan seorang pelari cross country adalah medan yang harus dilaluinya. Strategi berlari di bukit-bukit dengan suhu udara yang agak panas seperti di wilayah Piyungan, Bantul tentu sangat jauh berbeda pada saat melewati daerah pegunungan seperti di kawasan Kaliurang yang terletak di Kabupaten Sleman.

Baca Juga: 

Selain strategi, seorang pelari juga harus mampu beradaptasi terhadap medan dan cuaca yang akan dijelajahinya. Berlari dengan medan menanjak sambil menggendong ransel dan menyandang senjata tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan stamina, kedisiplinan yang didukung dengan strategi dan kemampuan beradaptasi. Tanpa itu semua, tidak menutup kemungkinan, bahkan sangat terbuka peluang seorang pelari, akan kelelahan bahkan jatuh pingsan/blackout dan justru akan menjadi beban serta merepotkan para peserta yang lain.

Tetapi jangan terlalu kuatir, jika dipersiapkan dengan baik/well prepared, maka pelari cross country tentu akan dihadiahi dengan keindahan alam hasil karya Sang Pencipta. Ketika berlari menyusuri lereng Gunung Merapi yang merupakan gunung berapi paling aktif di dunia, sambil mengembuskan napas, saya mengucapkan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Sang Pencipta diberi kesempatan untuk menikmati keindahan alamnya. 

Sebagai taruna AAU, kami tentu sangat dekat dengan Gunung Merapi. Tak hanya ketika berlari, pada saat terbang pertama kali di langit Yogyakarta, keindahan puncak Merapi juga selalu membuat para taruna, bahkan siswa Sekolah Penerbang/Sekbang terpesona.

Baca Juga: 

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, maka semakin besar pula tanggung jawab dan tugas yang harus dijalankan. Sejak lulus dari AKABRI Udara pada 1976 dan melanjutkan dengan belajar ke Sekolah Penerbang/Sekbang di Amerika Serikat (AS) hingga kembali ke Indonesia pada 1978, saya tidak lagi sempat berlari dengan rutin seperti ketika masih menjadi taruna.

Pada waktu mulai berdinas di Pangkalan Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (Lanud) Iswahjudi di Kabupaten Magetan, Jawa Timur; sepulang dari AS, kesibukan sebagai penerbang sangat menyita waktu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untuk berlari rutin dan terjadwal setiap pekan seperti ketika masih menjadi taruna. Hanggar skadron di Lanud Iswahjudi adalah satu-satunya tempat yang dapat dijadikan pelampiasan untuk menyalurkan hobi berlari. 

Namun sejak usia 42 tahun, tepatnya pada 1997, saya memaksakan diri untuk kembali ke aktivitas berlari secara rutin. Jalanan di Madrid yang merupakan Ibu Kota Spanyol, menjadi saksi dari jejak-jejak yang perlahan namun pasti untuk kembali berlari secara rutin. Ketika itu saya diberi kepercayaan sebagai Atase Pertahanan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Spanyol. Sejak saat itu, rutinitas berlari berlangsung secara teratur selama hampir 30 tahun kemudian. Hingga hari ini, pada usia 71 tahun, saya masih rutin berlari, namun tidak lagi dengan menggendong ransel dan menyandang senjata seperti ketika masih menjadi taruna AAU.

Baca Juga: https://erisherryanto.com/2025/01/14/pengalaman-menjadi-kepala-sekolah-penerbang-tempur/

Setiap hari, sebelum matahari terbit, tiga atau empat kali dalam sepekan; saya berlari dan kalau sudah terasa lelah berjalan rutin menempuh jarak lima kilometer. Semoga rutinitas ini dapat terus dilakukan seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia. 

Barangkali cara terbaik untuk mengucap syukur kepada Sang Pencipta adalah dengan menjaga kesehatan dengan rutin berlari setiap hari.{}    

Share this

Baca
Artikel Lainnya