Lima pesawat tempur yang ditembak jatuh pada Rabu dini hari adalah tiga unit Rafale buatan Prancis, satu unit MiG-29 dan Su-30 buatan Rusia. Sementara pesawat tempur keenam yang ditembak jatuh pada malam hari adalah Mirage 2000 yang juga diproduksi oleh Prancis.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, ketika berkunjung ke Pangkalan Udara Kamra di Pakistan mengungkapkan ditembak jatuhnya jet tempur keenam IAF adalah sebuah pencapaian yang signifikan bagi Angkatan Udara Pakistan/Pakistan Air Force. Namun PM Pakistan tidak menjelaskan secara mendetail pesawat tempur atau sistem pertahanan udara yang berhasil menembak jatuh pesawat tempur Mirage 2000 India.
Baca juga:
Jadi, hingga artikel ini ditulis, sudah empat pesawat tempur/fighter aircraft buatan Prancis dan dua jet tempur buatan Rusia yang dikerahkan IAF ditembak jatuh oleh tentara Pakistan. Sejak India menggelar serangan udara dengan sandi “Operasi Sindoor” ke wilayah Pakistan, seluruh dunia mencermati dan mengamati dengan seksama pertempuran yang pecah di kawasan Asia Selatan tersebut.
Keterlibatan negara-negara lain dalam perang kedua negara tetangga yang pecah pertama kali di udara itu juga tidak kalah penting untuk dicermati. Pesawat-pesawat tempur buatan Prancis dan Rusia yang memperkuat Angkatan Udara India, dan jet-jet tempur buatan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) hingga Amerika Serikat (AS) yang dikerahkan Angkatan Udara Pakistan berkonfrontasi satu sama lain tanpa perlu berhadap-hadapan. Teknologi “Beyond Visual Range” (BVR) telah diterapkan oleh angkatan udara kedua negara yang terlibat dalam pertempuran di udara.
Seusai India menggelar serangan udara untuk pertama kalinya ke wilayah Pakistan dengan mengerahkan 80 pesawat tempur, PM Pakistan, telah menegaskan jika Angkatan Udara Pakistan dalam keadaan siaga penuh, meskipun jet-jet tempurnya tidak melewati wilayah perbatasan dengan India. Namun ketika pesawat-pesawat tempur India merilis rudal-rudalnya, para penerbang tempur Pakistan menukik ke bawah dan menembak jatuh lima pesawat mereka, termasuk tiga jet tempur Rafale yang jatuh di wilayah Kashmir yang berada dalam wilayah kedaulatan India. PM Pakistan juga mengecam serangan udara India sebagai serangan yang kotor karena menyerang Pakistan pada tengah malam.
Baca juga:
Beyond Visual Range
Dalam peperangan udara modern seperti pertempuran antara India dengan Pakistan, pesawat-pesawat tempur yang dikerahkan oleh kedua negara tidak perlu lagi saling berhadapan dalam sebuah pertarungan jarak dekat/dogfight. Teknologi beyond visual range/BVR telah mengubah berlangsungnya pertempuran di udara secara signifikan.
BVR merupakan terminologi dalam perang udara yang merujuk pada pertempuran atau serangan yang dilancarkan melampaui jangkauan indra pengelihatan/visual. Jadi penerbang tempur/fighter pilot maupun penembak rudal yang merupakan bagian dari sistem pertahanan udara tidak perlu melakukan identifikasi secara visual terhadap target yang menjadi sasarannya.
Peran radar atau sensor elektronik lainnya sangat menentukan kemenangan hingga kekalahan suatu negara dalam perang udara pada era BVR. Salah satu contohnya adalah rudal udara-ke-udara jarak jauh/beyond visual range air to air missile (BVRAAM) yang ditembakkan Pakistan dari wilayah kedaulatannya terbukti mampu menembak jatuh pesawat tempur India. Rudal yang ditembakkan Pakistan menggunakan sistem pemandu radar yang dilengkapi sensor untuk mencapai targetnya.
Baca juga:
Pertempuran Udara Modern
Keterampilan yang didukung oleh keberanian penerbang di kokpit pesawat tempur memang sangat dibutuhkan, namun di era pertempuran udara kontemporer seperti yang terjadi di langit India maupun Pakistan, kemampuan pilot hingga kelincahan manuver pesawat tempur harus didukung oleh sistem pertahanan udara yang terintegrasi dengan maksimal. Superioritas/kecanggihan teknologi, termasuk di dalamnya kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) yang berperan mengidentifikasi target sekaligus mengambil keputusan telah menjadi elemen kunci bahkan game changer dalam pertempuran udara masa kini.
Keberhasilan menembak jatuh enam pesawat tempur India dalam waktu kurang dari 24 jam menunjukkan kepada dunia internasional jika pertahanan udara Pakistan mampu melakukan deteksi dan peringatan dini/early warning terhadap serangan udara yang terjadi di wilayah kedaulatan udaranya. Modernisasi yang dilakukan Pakistan terhadap kekuatan udaranya/air power juga telah menunjukkan hasil yang signifikan dan tentu saja mampu membuktikan jika negara negara yang dijuluki “Negeri Permata Timur” oleh penyair Inggris, Rudyard Kipling itu memiliki daya gentar/Deterrence Effect yang signifikan di kawasan Asia Selatan.
Lima Pelajaran
Pertempuran Udara yang terjadi di langit Asia Selatan memberikan banyak sekali pelajaran berharga. Para pakar pertahanan, termasuk ahli pertempuran udara di berbagai belahan dunia menggarisbawahi beberapa hal, antara lain: Pertama, urgensi pertahanan udara yang modern, terintegrasi sekaligus adaptif terhadap ancaman BVR. Kedua, perlunya pembangunan radar hingga sistem sensor yang dapat melakukan deteksi dini dan dapat diterapkan secara integral.
Baca juga:
Ketiga, perseteruan India-Pakistan memberikan peringatan jika pertempuran udara di masa depan, kemenangannya tidak lagi ditentukan oleh jumlah alat utama sistem senjata/Alutsista seperti pesawat tempur. Kemampuan pertahanan negara dalam mengelola network-centric warfare yang dapat menguasai spektrum elektromagnetik serta pembangunan sistem pertempuran yang responsif berbasis teknologi komunikasi dan informasi real-time juga sangat menentukan kemampuan sebuah negara menjaga kedaulatan wilayah udaranya.
Keempat, pada zaman modern, keunggulan penguasaan medan pertempuran tetap menjadi faktor yang menentukan selain penggunaan peralatan tempur yang canggih. Terakhir, namun tidak kalah penting, kemajuan teknologi musuh idealnya dapat dideteksi sejak dini sebelum pertempuran terjadi, agar setiap serangan yang dilakukan dapat diantisipasi.{}




