Ilustrasi Bandara Hong Kong. FOTO: Angelyn Sanjorjo/Pexels.com
Semalam di Hongkong, Bingung dengan Bahasa Inggris Beraksen Tiongkok

Date

Dalam perjalanan menuju Amerika Serikat, saya harus singgah semalam di Hong Kong. Hampir tak bisa naik bus karena tak punya Dollar Hong Kong.

Setelah menempuh perjalanan di udara selama kurang lebih lima jam dari Bandar Udara (Bandara) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, akhirnya pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Kai Tak, Hongkong. Setelah turun dari pesawat, saya tengok kiri-kanan melihat pergerakan penumpang yang baru turun dari pesawat. Maklum, baru pertama kali naik pesawat sipil/airline sekaligus terbang ke luar negeri. 

Ternyata, para penumpang menuju ke tempat pengambilan bagasi. Beruntung, dalam waktu yang tidak terlalu lama, koper Echolac kebanggaan yang baru saja dibeli di Jakarta terlihat pada rel berjalan bagasi. Hati terasa lega setelah sempat was-was ketika menunggu menunggu koper yang berisi berbagai jenis pakaian, mulai dari seragam hingga baju sipil. Pada 1977, ketika mendarat pertama kali di kota yang dijuluki Mutiara dari Timur/Pearl of the Orient, Bandara di Hongkong yaitu Kai Tak, berada di pinggiran kota. Dari bandara ke pusat kota disediakan transportasi umum yaitu bus. 

Berjalan seorang diri sambil menenteng koper kebanggaan berukuran 31 inch, dengan kemampuan berbahasa Inggris ala kadarnya, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada petugas yang berdinas di bandara tentang bagaimana caranya menempuh perjalanan ke Kota Hongkong. Namun jawaban yang diberikan petugas bandara tidak dapat dimengerti dengan jelas. Meskipun disampaikan dalam bahasa Inggris, namun aksen Tiongkoknya sangat kental, akibatnya dengan kemampuan berbahasa Inggris yang masih sangat minim, saya kurang memahami penjelasan yang diberikan. 

Baca juga: 

Tetapi setelah bertanya lebih dari sekali, mungkin dua atau tiga kali, akhirnya saya mengerti jika ingin ke pusat kota dari bandara bisa naik bus dari terminal dengan nomor sekian. Sekali lagi saya tengak-tengok sambil berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan. Alhamdulillah setelah mengikuti petunjuk yang diberikan dengan penuh kehati-hatian agar tidak tersesat, terminal bus yang dimaksud berhasil ditemukan. Sambil mengucap syukur, saya duduk sejenak menunggu bus datang.

Bahasa Isyarat

Setelah menunggu sebentar di tempat duduk yang disediakan di terminal, bus datang. Saya bertanya terlebih dahulu kepada sopir yang mengemudikan bus sambil menunjukkan alamat hotel tempat menginap. Namun sayang, ternyata dia tidak bisa berbahasa Inggris. Akhirnya, kami berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Pengemudi menjelaskan dengan gerak tangan jika rute bus yang dikemudikannya tidak melewati hotel yang dimaksud, namun saya disarankan untuk turun di pemberhentian terdekat, dan nanti akan ditunjukkan arah jalan menuju ke hotel tempat menginap.

Kemudian saya naik ke dalam bus, permasalahan muncul karena tidak memiliki Dolar Hongkong. Ketika sopir meminta agar memasukkan ongkos perjalanan ke dalam kotak yang berada di samping setir, saya mengeluarkan dompet untuk memperlihatkan uang yang ada hanya dolar AS. Namun dia menolak menerima pembayaran dalam mata uang selain Dolar Hongkong. Ketika sedang beradu argumen dengan sopir itulah, dua orang pramugari yang juga sedang antre untuk naik bus tepat di belakang saya akhirnya menengahi. 

Baca juga:

Hingga saat ini, saya tidak tahu dari maskapai apalagi dari negara mana kedua pramugari yang baik hari itu, yang jelas salah satu dari mereka membayar ongkos bus saya sambil berkata tidak usah kuatir (don’t worry) dalam bahasa Inggris. Saya langsung mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya (thank you very much). Kemudian saya bertanya sambil menunjukkan voucher apakah dia tahu hotel tempat saya akan menginap malam ini? Dia menjawab jika saya nanti harus turun sebelum dia turun, sehingga bisa memberi tahu arah hotel tempat saya menginap. Maka naiklah saya ke dalam bus dengan perasaan agak tenang setelah memperoleh bantuan dari dua orang pramugari yang tidak saya kenal.          

Di dalam bus, saya sempat memanjakan mata dengan menikmati pemandangan Hongkong yang pada waktu itu masih menjadi tanah jajahan Inggris Raya/Great Britain. Tetapi sebelum menerawang jauh tentang sejarah Hongkong, bus telah tiba di tempat saya harus turun. Untuk kedua kalinya, pramugari yang membayar tiket bus saya menunjukkan arah hotel tempat menginap malam itu. Ternyata letaknya masih beberapa blok dari halte bus tempat saya berhenti. Sebelum turun dari bus, saya kembali mengucapkan terima kasih kepada dua pramugari yang memberikan bantuan yang sangat berarti.    

Suasana Kota Hongkong di malam hari. FOTO: Andy Leung from Pixabay

Saya turun dengan menenteng koper Echolac 31 inch, di keramaian Hongkong. Sekitar pukul 7 hingga 8 malam, jalanan kota termasuk trotoar sedang memasuki puncak keramaian. Klakson mobil bersahutan di jalanan, para pejalan kaki memadati trotoar. Usai berjalan melewati beberapa blok, nama hotel tempat menginap akhirnya terlihat. Di Hongkong, meski matahari telah terbenam dan hari sudah berganti malam, lampu penerangan jalan selalu bersinar terang. Orang-orang berjalan berlalu lalang menikmati angin musim semi yang berembus mulai awal Maret hingga pengujung Mei setiap tahunnya.      

Hotel sudah berada tepat di seberang jalan. Namun permasalahan baru kembali muncul. Setelah diperhatikan dengan teliti dan penuh kehati-hatian, ternyata tidak ada pintunya. Saya kembali kebingungan harus masuk dari mana karena pintunya tidak terlihat. Setelah menunggu agak lama sambil memperhatikan pengunjung yang keluar masuk hotel akhirnya…bingo, ternyata pintunya yang terbuat dari kaca bisa terbuka sekaligus menutup secara otomatis jika ada pengunjung yang hendak keluar atau masuk lobi.    

Tiba-tiba saya teringat tanah air tercinta Indonesia yang belum lama ditinggalkan. Dalam ingatan saya, di Indonesia belum ada atau mungkin belum pernah melihat hotel dengan pintu kaca yang bisa terbuka dan menutup secara otomatis, yang belakangan baru saya ketahui ternyata  menggunakan teknologi sensor. Mungkin di Ibu Kota Jakarta sudah ada hotel yang menggunakan pintu masuk dari kaca yang menggunakan teknologi sensor, yang jelas saya mengetahui pertama kali di Hongkong. Maklum, masa kanak-kanak hingga remaja lebih banyak dihabiskan di Kudus, Jawa Tengah sebelum akhirnya melanjutkan ke AAU dan sejenak belajar di Sekbang, Yogyakarta.  

Baca juga:

Setelah tengok kiri-kanan sambil memperhatikan kecepatan kendaraan bermotor yang melintas, akhirnya saya memberanikan diri untuk menyeberang. Pertanyaan selanjutnya yang muncul di kepala adalah bagaimana membuka pintu dari kaca. Rasa syukur kembali terucap di dalam hati ketika akhirnya pintu terbuka sendiri. Saya segera menuju ke meja resepsionis yang terbuat dari marmer, voucher segera ditunjukkan. Setelah dicek, petugas resepsionis mengonfirmasi jika memang benar telah disediakan kamar. Hati ini senang sekali rasanya, dalam perjalanan dari Jakarta ke AS sempat singgah sejenak di Hongkong meski hanya semalam. Proses check-in segera dilakukan dan kunci kamar segera diberikan.

Sebelum masuk ke lift diantar room boy, saya memastikan terlebih dahulu tentang penerbangan ke AS keesokan harinya. Jawaban yang diberikan resepsionis setelah berkoordinasi sangat menenangkan karena besok ternyata saya akan diantar ke bandara dengan menggunakan kendaraan dari hotel. Ketika memasuki kamar yang sangat nyaman, saya segera tertidur. Memang masih ada tanda tanya di dalam pikiran mengenai bagaimana pembayaran ongkos ke bandara besok, tetapi hari ini berbagai permasalahan yang terjadi sudah cukup melelahkan untuk dihadapi. Persoalan besok urusan nanti. Malam itu saya menikmati malam pertama sekaligus yang terakhir di Hongkong dengan beristirahat di kamar hotel meski dengan perut lapar karena belum terisi makanan sejak lepas landas dari Jakarta.

Baca juga:

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, saya sudah siap untuk ke bandara melanjutkan penerbangan ke AS. Badan terasa segar setelah beristirahat dengan cukup. Pihak hotel mengumumkan jika kendaraan yang akan mengantar tamu ke bandara akan segera berangkat. Tanpa berpikir panjang, karena takut ketinggalan pesawat, saya segera menaiki kendaraan yang disediakan. 

Dalam perjalanan dari hotel ke bandara, saya baru diberi tahu ternyata hotel menyediakan sarapan/breakfast. Namun perut yang lapar tidak terlalu menjadi masalah ketika tiba di airport. Proses check-in segera dilakukan, bagasi juga telah diurus sebelum akhirnya boarding ke pesawat Boeing 747, kalau tidak salah ingat. Tetapi yang jelas, maskapai yang saya naiki adalah Northwest Airlines dengan rute penerbangan Hongkong-Seattle. Di dalam kabin pesawat, pramugari mengumumkan jika penerbangan akan ditempuh selama kurang lebih 15 jam.{}  

Share this

Baca
Artikel Lainnya