Purwarupa KF-21 Boramae. Sumber: Korea Aerospace Industries
Masa Depan Pengembangan Pesawat Tempur Semi Siluman Kerja Sama Indonesia-Korsel

Date

Berita-berita terkini tentang kerja sama pengembangan pesawat tempur yang dilakukan oleh Indonesia dengan Korea Selatan selalu menarik perhatian saya. Tidak ada satupun pembaharuan/update yang  terlewatkan terkait dengan kolaborasi kedua negara.

Sebagai Inspektorat Jenderal (Irjen) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) yang bertugas pada 2010 dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemhan RI selama tiga tahun sejak 2010 hingga 2013; yang terlibat langsung dalam kolaborasi kedua negara; hingga kini, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memantau sejauh mana kemajuan kerja sama RI dan Republic of Korea (RoK).

Salah satu berita baik/good news yang tentu saja tidak luput dari pemantauan adalah pernyataan Duta Besar (Dubes) RI untuk Korsel, Cecep Herawan, Seperti dikutip dari Kantor Berita Antara, Dubes mengemukakan jika pengembangan bersama KF-21 yang telah berlangsung lebih dari satu dekade resmi berakhir pada Juni 2026. Salah satu hasil kesepakatan antara kedua negara adalah penyerahan satu prototipe dari enam pesawat KF-21 yang telah diproduksi.

Dalam acara Indonesian Next-Generation Journalist Network yang diselenggarakan Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Korea Selatan, pada Selasa, 10 Juni 2026, Dubes mengutarakan jika prototipe dari enam pesawat KF-21 itu sudah disepakati dan akan diserahkan ke Indonesia yang diharapkan dalam waktu dekat bisa direalisasikan.

BACA JUGA:

Dubes menambahkan tahap pengembangan bersama telah selesai dan selanjutnya, pembahasan akan fokus pada pemanfaatan hasil proyek, termasuk berbagai opsi kerja sama lanjutan. Terkait masa depan kerja sama kedua negara, menurut dubes akan diserahkan kepada para pengambil keputusan di Indonesia.

Presiden Korsel, Lee Jae Mung, pada saat penyerahan unit pertama KF-21 di fasilitas Korea Aerospace Industries (KAI), yang terletak di Sancheon, Provinsi Gyeongsangnam, Korea Selatan (Korsel) pada Rabu, 25 Maret 2026, mengungkapkan jika jet tempur yang dijuluki “Boramae” itu menandai tonggak baru kemandirian pertahanan negara yang dipimpinnya.

Presiden Lee juga mengemukakan jika keberhasilan produksi “Boramae” akan dijadikan pijakan untuk membawa Korsel masuk ke jajaran empat besar industri pertahanan dunia. Tak hanya itu, dia juga mengutarakan komitmen pemerintahnya untuk segera mempercepat pengembagan mesin, material dan komponen canggih untuk terus meningkatkan daya saing industri pertahanan Korsel yang dijuluki “Negeri Ginseng”.

BACA JUGA:

Jika Presiden Korsel mengungkapkan kebanggaan beserta harapan dan komitmennya, lalu bagaimana dengan sikap Indonesia sebagai negara mitra? Boramae yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti Elang, dipastikan akan mendarat pertama kali di Indonesia sebagai negara mitra pengembang perdana.

Kolaborasi Dua Negara

Boramae merupakan bukti keberhasilan dari sebuah perjalanan panjang Korsel selama 25 tahun. Presiden Korsel pada 2001, Kim Dae-jung menyampaikan visinya mengenai pengembangan pesawat tempur produksi dalam negeri. Kerja keras para peneliti, insinyur hingga pemerintah termasuk militer berhasil merealisasikan proyek ambisius itu meski menghadapi berbagai tantangan.

Namun Korsel tidak bekerja sendirian. Negeri Gingseng itu juga aktif mencari mitra, dan setelah bernegosiasi dengan banyak negara, pilihan akhirnya jatuh kepada Indonesia. Sebagai negara mitra, Indonesia tentu saja memperoleh kepercayaan sekaligus kehormatan. Pada awalnya, proyek kolaborasi pembangunan jet tempur kedua negara diberi nama Korea Fighter eXperiment/Indonesia Fighter eXperiment (KFX/IFX). Namun seiring dengan berjalannya waktu yang diwarnai dengan berbagai dinamika serta ditandai dengan berbagai kemajuan proyek, nama pesawat purwarupa/prototipe jet tempur diberi nama KF-21.

BACA JUGA:

Legal standing kolaborasi adalah Letter of Intent (LoI) kedua negara yang disepakati pada 6 Maret 2009. Penandatanganan dilakukan di Jakarta dan disaksikan oleh presiden dari kedua negara. LoI kemudian ditindaklanjuti dengan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Kementerian Pertahanan Korsel dan Indonesia pada 15 Juli 2010. Pihak Kemhan RI diwakili oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) yang pada waktu itu dijabat oleh saya. Salah satu kesepakatan penting yang masih saya ingat hingga hari ini adalah terkait dengan persenjataan; yaitu KF-21 dilengkapi dengan Within Visual Range Missile and Beyond Visual Range Missile.

Sebelum MoU disepakati, terlebih dahulu dilakukan survei mengenai teknologi yang dimiliki oleh kedua negara, apakah memungkinkan/visible untuk memulai kolaborasi. Survei dilakukan dalam rentang waktu kurang lebih 1,5 tahun;Sejak LoI disepakati pada 6 Maret 2009 hingga MoU disetujui pada 15 Juli 2010. Setelah MoU disetujui, Kedua negara terikat dalam sebuah komitmen bersama. Artinya Korsel dan RI memulai kolaborasi untuk menjalankan program KFX/IFX, yang produknya berupa pesawat tempur diberi nama KF-21 Boramae.

Fase technical development base menandai tahap awal kerja sama. Perjanjian Proyek/Project Agreement ditandatangani pada 20 April 2011 dan berjalan sejak 2011 hingga 2014. Tahap kedua atau fase selanjutnya adalah Enginering Manufacturing Development Base. Kolaborasi tahap kedua disepakati pada 6 Oktober 2014. Selanjutnya Indonesia merumuskan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 136 Tahun 2014 yang ditandatangani pada 17 Oktober 2014.

BACA JUGA:

Komitmen kedua negara berjalan sesuai kesepakatan. Tak hanya di atas kertas, perkembangan kerja sama sangat menggembirakan. KF-21 Boramae pada tahap awal telah teruji mampu melakukan pergerakan pesawat/taxiing di landasan/runway Bandara Sancheon, Korsel. Uji taxiing dan uji statis merupakan dua tahapan yang harus dilalui sebelum uji terbang yang juga berhasil dengan baik sesuai target pada 22 Juli 2022.

Sejak awal, Sang Elang memang didesain untuk menjawab kebutuhan dari dua negara yang telah sepakat untuk bekerja sama mengembangkan jet tempur. Borame merupakan pesawat tempur multi peran/multirole fighter aircraft yang memiliki kemampuan semi stealth, smart avionic dan dilengkapi dengan sensor feature peluru kendali serta highly maneuverable aircraft.

Jika RoK/Korsel melalui pemimpin nasionalnya menunjukkan kebanggaan terhadap keberhasilan program Boramae; maka tidak berlebihan jika Indonesia sebagai negara mitra juga melakukan hal sama. Seyogyanya kerja sama kedua negara tetap dilanjutkan dengan mengedepankan semangat kolaborasi yang saling menguntungkan. Mudah-mudahan para pengambil keputusan seperti yang diketengahkan oleh Dubes Indonesia untuk Korsel di awal artikel singkat ini dapat menindaklanjuti kerja sama kedua negara yang telah berlangsung selama lebih dari 15 tahun.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya