Ilustrasi pesawat angkut berat Hercules. Sumber: Pixabay.
Keliling Dunia Mencari Hercules

Date

Dari sekitar 23 unit pesawat angkut berat Hercules andalan TNI-AU, hanya satu unit yang dapat dioperasikan ketika tsunami melanda ujung barat Indonesia pada 2024. Kenapa demikian?

Pada 24 Desember 2004, gempa bumi berkekuatan 9,1-9,3 skala Richter mengguncang ujung barat Indonesia. Gempa yang berpusat di Samudra Hindia, kurang lebih 250 kilometer dari pantai barat provinsi yang terletak di ujung barat Indonesia itu, memicu gelombang laut/tsunami yang menggulung Aceh, Sumatra Utara, hingga Negara-negara yang terletak di sekitar Samudra Hindia. 

Ketika malapetaka itu terjadi, Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU) memiliki banyak pesawat Hercules. Jumlahnya seingat saya kurang lebih sekitar 23 unit. Namun sangat disayangkan, pesawat angkut berat andalan TNI-AU tersebut hanya satu unit yang dapat dioperasikan. Istilah yang digunakan para penerbang dan kru maupun seluruh personel TNI-AU untuk pesawat yang dapat diterbangkan adalah serviceable.

Jika kemudian muncul sebuah pertanyaan; mengapa dari 24 unit hanya satu pesawat yang serviceable? Maka jawabannya adalah pada waktu itu Republik Indonesia sedang diembargo oleh Amerika Serikat (AS). AS atau United States of America (USA) adalah negara produsen pesawat angkut berat legendaris; yang telah teruji di berbagai medan operasi. Oh ya, jika menengok sekilas ke belakang, sejarah mencatat jika RI adalah negara pertama di luar USA (sebagai negara produsen) yang mengoperasikan Hercules di dunia. Sejak 1960, skadron angkut TNI-AU telah mengoperasikan Hercules yang di kalangan para penerbang angkut juga populer disebut “Herky”.

BACA JUGA:

Menghadapi situasi darurat pada saat bencana alam terjadi di suatu daerah, apalagi sedahsyat yang terjadi di Aceh pada waktu gempa bumi dan tsunami, tidak banyak pilihan yang dimiliki pemerintah RI. Hancurnya infrastruktur berupa jalan dan jembatan, tidak memungkinkan proses evakuasi dan penyaluran bantuan dilakukan melalui darat. Begitu juga kondisi pelabuhan yang mengalami kerusakan berat, tentu saja belum memungkinkan upaya pertolongan pertama diberikan tenaga medis kepada para korban di lokasi bencana melalui akses di lautan atau wilayah perairan. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah bantuan melalui dukungan udara; dan Herky adalah pesawat angkut berat yang telah teruji mampu mendarat di landasan pendek dengan kondisi tidak rata bahkan kasar.

***

Beberapa hari setelah bencana terjadi, pada 2005, saya menjabat sebagai Wakil Asisten Perencanaan Umum Markas Besar (Waasrenum Mabes) TNI. Pimpinan di Mabes TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, menginstruksikan agar mencari informasi negara mana saja yang mengoperasikan Hercules untuk angkatan bersenjatanya. Tak hanya pimpinan Mabes TNI, pimpinan nasional yaitu wakil presiden (Wapres) juga memerintahkan agar mencari informasi secara detail tentang “Herky”, termasuk berapa harganya.

Sebagai Waasrenum, saya dan tim tentu segera menindaklanjuti perintah dari pimpinan. Hasilnya; memang banyak sekali negara-negara di dunia yang mengoperasikan Hercules sebagai tulang punggung skadron angkut berat tentaranya; namun tidak ada satu pun yang berniat untuk menjualnya. Penyebabnya seperti yang telah disampaikan sebelumnya; “Herky” terkenal sebagai pesawat angkut yang “Bandel”. Dapat diandalkan di berbagai medan dan telah teruji di beragam operasi; baik untuk angkut personel maupun logistik. 

BACA JUGA:

***

Meski pencarian belum membuahkan hasil, upaya masih terus dilakukan. Ketika saya berdinas di Kementerian Pertahanan (Kemhan), pada 2010 hingga 2013, Presiden RI Keenam, Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab disapa SBY berkunjung ke Australia. Kabar baik justru datang dari negara tetangga Indonesia yang dijuluki “Negeri Kangguru”; Australia berencana untuk menghapus Hercules dari inventaris alat utama sistem senjata (Alutsista) angkatan udaranya.

Akhirnya pencarian berhasil. Saya yang pada waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemhan, menandatangani kesepakatan antara pemerintah RI dan Australia. Sebanyak empat unit Hercules akan dihibahkan Australia kepada RI. Selain itu, lima unit “Herky” juga akan dijual oleh Pemerintah Australia kepada Indonesia. Jadi total ada sembilan pesawat; empat hibah, lima dibeli.  

Tetapi permasalahan tidak berhenti begitu saja. Empat pesawat yang dihibahkan kondisi tidak laik terbang/unserviceable. Pemerintah RI harus mengeluarkan dana untuk mengaktifkan keempat pesawat itu. Dana sebesar 63 juta dolar AS/United States Dolar (USD), dialokasikan untuk menghidupkan pesawat sampai statusnya menjadi serviceable dan siap diterbangkan oleh para personel TNI-AU.

BACA JUGA:

Namun setiap masalah pasti memiliki solusi. Selain dari Pemerintah Australia, kabar baik juga datang dari Northrop Grumman Integrated Defense System. Perusahaan pertahanan yang berbasis di West Falls Church, Negara Bagian Virginia, AS, yang sebelumnya merawat/maintenance pesawat-pesawat Hercules Angkatan Udara Australia/Royal Australian Air Force (RAAF); bersedia untuk melakukan proses pemeliharaan, perbaikan dan operasi/ maintenance, repair and operations (MRO). Hasilnya dengan biaya sebesar 63 juta dolar AS, keempat pesawat hibah dari Australia itu menjadi serviceable

Pada akhirnya, pencarian sekaligus penantian yang cukup panjang itu berakhir. Para pilot angkut berat TNI-AU di Skadron 31 Pangkalan TNI-AU (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, dan Skadron 32 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, dapat kembali menerbangkan Hercules. Pesawat angkut yang telah teruji dalam menjalankan berbagai medan operasi itu serviceable untuk kembali menjalankan misi; baik misi dalam Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP); salah satunya operasi darurat penanganan bencana alam seperti yang pernah terjadi di Aceh.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya