Ilustrasi Pesawat Terbang Tanpa Awak/Drone. Sumber: Pexels.com
Drone Buatan Indonesia di Langit Australia

Date

Kabar baik datang dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Industri Kecil Menengah (IKM) yaitu PT Bentara Tabang Nusantara telah merealisasikan ekspor perdana Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA)/drone ke Australia.

IKM tersebut mengekspor drone bernama Omnibe RTB Nopayload. Drone memiliki kemampuan pemantauan area hingga jarak pandang mencapai 5.000 hektare.

Seperti diberitakan di berbagai media digital/dalam jaringan (Daring), kesuksesan ekspor perdana tidak lepas dari peran Bea Cukai sebagai industrial assistance dan trade facilitator. Kepala Kantor Bea Cukai Bandung Budi Santoso dalam keterangannya awal Februari lalu mengemukakan jika ekspor perdana, menunjukkan kesiapan industri dalam negeri untuk menembus pasar internasional. Selain itu, ekspor juga memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan devisa negara dan penguatan ekonomi nasional.

Kebangkitan Industri Dirgantara

Namun di balik optimisme yang tentu saja layak diapresiasi itu, mengemuka suatu pertanyaan: apakah ekspor perdana tersebut merupakan titik awal kebangkitan industri dirgantara nasional, atau tidak lebih hanya sekadar keberhasilan insidental yang belum tentu berkelanjutan?

BACA JUGA:

Keberhasilan ekspor drone, apalagi yang diproduksi industri kecil menengah, adalah sebuah kabar baik sekaligus langkah awal yang sangat menggembirakan. Kemampuan PT Bentara Tabang Nusantara yang berhasil menembus pasar di Australia, menunjukkan jika produk drone yang dihasilkan memiliki keunggulan bahkan kelebihan daya saing; terutama jika dibandingkan dengan produk-produk serupa yang dihasilkan negara-negara lain. Namun di sisi lain, dinamika pasar drone global juga perlu dicermati. Negara-negara yang memiliki ekosistem teknologi dirgantara yang lebih maju seperti Amerika Serikat (AS), Republik Rakyat Tiongkok (RRT) hingga Israel dan Republik Islam Iran, tentu tidak ingin ketinggalan oleh Indonesia.

Oleh sebab itu, agar ekspor drone ke Australia pada 4 Februari 2026 lalu tidak menjadi pengiriman perdana sekaligus yang terakhir, maka perlu dicermati dengan seksama struktur industri yang menopang produk drone Omnibe RTB Nopayload.  Pertanyaan pertama yang diajukan tentu terkait erat dengan rantai pasok; apakah sudah sepenuhnya berasal dari dalam negeri Indonesia? Kemudian bagaimana dengan komponen-komponen kritis; mulai dari avionik, sensor hingga data link serta sistem navigasi?

BACA JUGA:

Jika komponen-komponen yang dikemukakan sebagian besar masih sangat bergantung pada produk-produk ekspor yang berasal dari luar negeri, maka berita baik/good news tentang keberhasilan ekspor perlu dicermati dengan penuh kehati-hatian. Mengapa demikian? Kemandirian teknologi tidak hanya berkaitan dengan label produksi; tetapi juga penguasaan intellectual property (IP) dan critical technologies.

Ekspor ke Australia, yang juga dikenal dengan benua kangguru, juga perlu dianalisa dengan perspektif geopolitik di satu sisi dan juga standar keselamatan/regulasi di sisi lain. Jika drone buatan Indonesia mampu memasuki pasar negara persemakmuran/commonwealth dari Inggris Raya/United Kingdom itu, maka tidak menutup kemungkinan atau membuka peluang yang sangat lebar bagi Indonesia untuk melakukan penetrasi ke pasar di negara-negara lain yang memiliki standar yang sama. Oleh sebab itu, perlu ditelisik lebih jauh apakah ekspor perdana hanya dilakukan satu kali/ one-off export, atau justru sudah menjadi bagian dari kontrak jangka panjang, sehingga terkait erat dengan hubungan industrial yang berkelanjutan/sustainable.

Industri Dirgantara Nasional

Momentum ekspor ke Australia, sangat diharapkan oleh berbagai pihak terkait, termasuk para pemangku kepentingan/stakeholders menjadi pintu masuk/entry point bagi kerja sama strategis kedua negara tetangga. Jika menengok sejenak ke belakang, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam industri dirgantara. Mulai dari Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang kemudian berubah menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan kini bernama PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

BACA JUGA:

Dinamika industri dirgantara nasional pernah menempatkan Indonesia, meski hanya dalam waktu singkat sebagai salah satu negara berkembang di dunia yang cukup diperhitungkan dalam penguasaan teknologi penerbangan. Sejarah juga mengingatkan jika industri dirgantara Indonesia diwarnai dengan inkonsistensi kebijakan, keterbatasan pendanaan hingga lemahnya koordinasi maupun integrasi antar pemangku kepentingan. 

Belajar dari berbagai dinamika yang pernah terjadi di tanah air, produk drone dari PT Bentara Tabang Nusantara perlu ditempatkan sebagai pemicu/trigger point untuk menstimulasi gairah atau kebangkitan industri dirgantara di Indonesia. Industri dirgantara di Indonesia akan bangkit  apabila keberhasilan-keberhasilan dari Bandung dapat direplikasi, diperluas, dan ditopang oleh strategi nasional yang terintegrasi. Tanpa itu semua, industri dirgantara di dalam negeri sangat berisiko terjebak dalam ilusi kemajuan; Terlihat bergerak maju hanya di permukaan, namun sesungguhnya masih berjalan di tempat, tanpa mengalami kemajuan yang signifikan.

Pada saat inilah ujian dimulai; apakah Indonesia siap menjadikan momentum ekspor drone ke Australia sebagai langkah awal untuk melakukan lompatan besar; atau justru kembali melewatkan peluang yang diberikan sejarah untuk bangkit sebagai kekuatan dirgantara yang disegani di kawasan Indo-Pasifik.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya