Serangan udara/air Strike digelar pada saat umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Sebelum serangan dilakukan, Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap sikap Iran dalam perundingan terkait program nuklir dan rudal yang digelar di Oman.
Operasi yang digelar AS bersandi Epic Fury, sementara Israel memberi sandi Roaring Lion. Operasi gabungan AS-Israel yang dilaksanakan secara serentak, menggelar kurang lebih 900 air strike dalam 12 jam pertama. Lima sasaran yang menjadi target operasi adalah sistem pertahanan udara, pusat komando militer dan intelijen, elite Iran, hingga infrastruktur nuklir, serta fasilitas rudal balistik. Operasi gabungan telah mengakibatkan terjadinya eskalasi yang dapat dikategorikan sangat signifikan terhadap Iran; terhitung sejak meletusnya perang antara Iran dengan negara tetangganya yaitu Irak pada 1980 hingga 1988.
Selain lima sasaran, operasi Epic Fury dan Roaring Lion, juga bertujuan untuk; pertama, melakukan serangan pemenggalan/decapitation strike terhadap kepemimpinan politik di Iran. Kedua, menghancurkan jaringan militer taktis maupun strategis angkatan bersenjata Iran, termasuk proksinya di berbagai negara; salah satu contohnya adalah kelompok militan Hamas di Jalur Gaza. Ketiga, melumpuhkan jaringan rudal balistik; keempat adalah menghentikan program nuklir Iran, yang juga dikenal sebagai “Negeri Para Mullah”.
BACA JUGA:
Narasi, untuk tidak menyebutnya sebagai apologi yang dikonstruksikan AS dan Israel kepada dunia internasional, adalah operasi yang digelar kedua negara merupakan sebuah serangan pendahuluan/preemptive attack. Sebagai aksi militer ofensif, preemptive attack, digelar untuk menghancurkan kekuatan rival, sebelum musuh yang ditargetkan sebagai sasaran melancarkan serangan yang dapat dipastikan akan terjadi/imminent threat.
Serangan pembuka operasi gabungan berdampak sangat signifikan terhadap Iran sebagai negara yang diserang. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menjadi salah satu korban jiwa. Tak hanya pemimpin tertinggi, pejabat militer hingga elite intelijen Iran juga meregang nyawa. Begitu juga dengan warga sipil yang turut menjadi korban. Terakhir, infrastruktur militer strategis Iran juga mengalami kerusakan yang masif.
Ketegangan regional yang terus menerus meningkat adalah salah satu faktor yang menyebabkan digelarnya operasi militer. Tak hanya itu, masih ada tiga faktor lain yang menjadi penyebab utama atau mendorong dilakukannya operasi militer. Pertama, peningkatan produksi rudal dan aksi-aksi bersenjata yang dilakukan proksi-proksi Iran di kawasan. Selain Hamas di Jalur Gaza, aksi militer juga dilakukan Houthi di Yaman, dan juga Hizbullah di Lebanon. Kedua, perang udara Israel versus Iran yang meletus pada Juni 2025 lalu.
BACA JUGA:
Ketiga, atau yang utama adalah kegagalan negosiasi/perundingan terkait fasilitas pengayaan nuklir Iran pasca gagalnya perjanjian Nuklir/Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2015. Jadi untuk sementara dapat ditarik sebuah kesimpulan awal jika serangan 28 Februari adalah sebuah transisi bahkan titik balik/turning point dari perang proksi/proxy war ke perang langsung antar negara/direct state-to-state war.
Namun di sisi lain, respons atau reaksi cepat Iran tidak dapat dipandang sebelah mata. Seluruh dunia menyaksikan jika serangan udara Israel-AS ke Iran langsung dibalas dengan serangan Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA)/drone tempur Iran ke Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Negara-negara seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Arab Saudi, Irak hingga Yordania langsung menjadi target alat utama sistem senjata (Alutsista) Iran. Rute pelayaran global di Selat Hormuz yang juga merupakan wilayah kedaulatan Iran juga terancam akibat eskalasi yang terjadi. Konflik yang diinisiasi Israel-AS, dalam waktu singkat dan tidak perlu menunggu terlalu lama telah semakin meluas menjadi konflik di kawasan atau perang regional yang berpotensi semakin berlarut-larut seiring berjalannya waktu.
BACA JUGA:
Menjelang satu bulan pecahnya perang, ada tiga hal yang mengemuka dan perlu dicermati. Pertama, operasi yang digelar tidak menyelesaikan sengketa dan justru semakin membuat konflik bertambah rumit. Kedua, terjadi pergeseran yang perlu dicermati oleh seluruh negara di dunia terkait dengan konfrontasi langsung/direct confrontation antar negara-negara yang berkonflik. Ketiga, kemungkinan terjadinya perang terbuka antar negara di kawasan yang terbagi dalam berbagai front semakin terbuka lebar. Perubahan sedang terjadi yang disertai pergeseran kekuatan, secara pasti mengakibatkan perubahan keseimbangan pada tataran global.
Tentu saja banyak sekali pelajaran yang dapat dijadikan hikmah dari dinamika yang sedang dan akan terus terjadi. Air strike 28 Februari 2026 tidak hanya sekadar operasi militer. Serangan menjadi awal dari sebuah fase konflik antar negara yang terbuka, terus menerus mengalami dinamika, eskalatif sekaligus penuh ketidakpastian.
Oleh sebab itu, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah terus mewaspadainya.{}




