Pesawat tempur F-16 Fighting Falcon Sumber: Pexels.com
Di Balik Strategi NATO dalam Modernisasi Kekuatan Udara Ukraina

Date

Negara-negara Eropa yang menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara/North Atlantic Treaty Organization (NATO); mulai dari Belanda, Denmark, Belgia hingga Norwegia akan segera kembali mengirimkan pesawat tempur/fighter aircraft F-16 ke Ukraina. Pengiriman jet tempur generasi keempat itu bertujuan untuk memperkuat Angkatan Udara (AU) Ukraina yang selama lebih dari tiga tahun menghadapi invasi Rusia.

Menteri Pertahanan Belanda, Ruben Brekelmans, mengemukakan pada Senin, 26 Mei 2025, akan mengirimkan 24 jet tempur F-16 yang telah dijanjikan kepada Ukraina. Bersama dengan Denmark, sebelumnya Belanda telah mengirimkan jet tempur yang teruji di berbagai medan pertempuran itu ke Ukraina.

Seperti diberitakan Asosiasi Penyiaran Belanda, Negara Kincir Angin tersebut tidak sekadar mengirimkan jet tempur ke Ukraina, namun juga melatih pilot dan teknisi serta membangun doktrin militer. Itu semua menurut Menhan Belanda bertujuan untuk membangun angkatan bersenjata Ukraina menjadi modern agar setara dengan negara-negara yang menjadi anggota NATO.

Baca juga:

Selain 24 unit dari Belanda, Denmark juga menjanjikan 19 jet F-16 dari Denmark, 30 unit dari Belgia dan enam unit dari Norwegia. Dengan demikian, dalam waktu dekat sebanyak 76 unit F-16 Fighting Falcon akan memperkuat AU Ukraina. Pemerintah Norwegia mengungkapkan pada awal Mei 2025 akan mengirimkan F-16 pada akhir tahun ini. Sementara otoritas Belgia mengemukakan akan segera mempersiapkan Fighting Falcon lebih cepat dari batas waktu yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu pada 2028.

         Keempat negara Eropa yang juga merupakan anggota NATO itu, tak hanya berkomitmen untuk memasok 76 unit F-16 ke Ukraina; Belanda, Belgia, Denmark dan Norwegia juga sepakat akan memodernisasi angkatan udaranya dengan beralih dari Fighting Falcon ke pesawat tempur generasi kelima yaitu F-35 yang tentu saja jauh lebih canggih. Jika dianalisa secara strategis dengan mengedepankan aspek geopolitik, maka peralihan keempat negara anggota NATO yang sebelumnya mengoperasikan F-16 dan memutuskan untuk melakukan modernisasi dengan menggantinya dengan F-35, dapat dimaknai sebagai awal proses transisi kekuatan udara negara-negara terkait.

         Konflik bersenjata Rusia dengan Ukraina yang pecah selama lebih dari tiga tahun dijadikan momentum sekaligus dimanfaatkan oleh keempat negara untuk mengerahkan Fighting Falcon ke medan perang. Jadi tidak hanya sebagai bantuan, F-16 juga dikirimkan ke Ukraina sebagai upaya efisiensi anggaran dalam kerangka modernisasi. Tentu jauh lebih efisien untuk mengirimkannya sebagai bantuan daripada memusnahkan atau menyimpan pesawat-pesawat bekas yang sudah tidak dioperasikan lagi.  

Baca juga:

         Selain itu, keempat negara NATO tersebut juga dapat menguji kekuatan F-16 di medan tempur Rusia versus Ukraina, atau dengan kata lain Ukraina akan dijadikan sebagai Proxy State. Sebagai pesawat tempur multi peran/multirole, yang memiliki keunggulan di ruang udara terbuka dengan dukungan kecanggihan radar dan sistem avionik. F-16 akan diuji keandalannya dalam menghadapi sistem pertahanan udara rusia seperti S-400. 

Namun, ditembak jatuhnya tiga unit F-16 yang dikirim oleh NATO pada gelombang pertama untuk Ukraina menunjukkan jika tanpa dukungan dominasi spektrum udara serta sistem Suppression of Enemy Air Defences (SEAD) yang kuat, efektivitas operasional F-16 akan sangat terbatas. Performa terbaik jet tempur juga akan sulit ditampilkan apabila negara operator seperti Ukraina tidak memiliki Airborne Early Warning and Control (AEW&C) dan jaringan Command, Control, Communications, Computer, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (C4ISR) seperti yang dimiliki NATO.

Oleh sebab itu, tidak cukup hanya dengan memberikan pelatihan kepada para penerbang tempur/fighter pilot maupun teknisi Ukraina. Jika NATO memang benar-benar berniat untuk membantu Ukraina, maka seluruh support system juga harus diberikan. Para pemimpin NATO, terutama di kawasan Uni Eropa harus memiliki rencana jangka panjang terkait dengan konflik bersenjata yang terjadi antara Ukraina dengan Rusia.

Baca juga:

Tidak menutup kemungkinan, pengiriman 76 unit F-16 ke Ukraina akan memicu perlombaan untuk melakukan modernisasi kekuatan angkatan udara di kawasan Eropa. Konsekuensinya perang Ukraina melawan Rusia akan semakin berlarut-larut sehingga berdampak terhadap peningkatan eskalasi di perbatasan Rusia dengan NATO. Sengketa perbatasan yang besar kemungkinan akan mengubah zona penyangga/buffer zone pasca perang dingin berubah menjadi daerah konflik yang sewaktu-waktu bisa menjadi titik api/hotspot konflik bersenjata atau perang terbuka yang jauh lebih mengancam perdamaian dunia.

         Jadi, pengiriman 76 unit jet tempur F-16 oleh empat negara anggota NATO ke Ukraina sebagai bantuan militer harus ditindaklanjuti dengan mempertimbangkan strategi geopolitik. Modernisasi kekuatan udara negara pemberi dan penerima bantuan harus dipertimbangkan dengan penuh kehati-hatian. 

Jika NATO berkomitmen serius membantu Ukraina, maka dukungan yang diberikan tidak hanya berupa pesawat dan pelatihan, tetapi harus meliputi sistem pertempuran udara modern. Tanpa itu semua, pengiriman F-16 hanya akan menambah daftar sasaran sistem pertahanan udara Rusia. Apabila itu yang terjadi, maka eskalasi militer antara Rusia dan NATO di kawasan Eropa Timur dipastikan akan semakin meningkat seiring dengan konflik Rusia-Ukraina yang kian memanas.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya