Taruna Akademi Militer Sumber: Instagram Akmil
Reuni Emas dan Silaturahmi AKABRI Angkatan 1976

Date

Sebanyak 1.177 calon perwira remaja (capraja) resmi dilantik Presiden Kedelapan Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu 22 Juli 2026.

Pada upacara Prasetya Perwira (Praspa) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tersebut; 512 lulusan Akademi Militer (Akmil) 229 lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL), dan 154 lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) serta 282 lulusan Akademi Kepolisian (Akpol), dilantik.

Meski hanya menyaksikannya sekilas di layar kaca, namun ingatan saya langsung tertuju kepada peristiwa yang terjadi 50 tahun lalu di AAU, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketika itu, saya bersama dengan rekan-rekan dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) dilantik oleh Presiden Kedua RI, Soeharto, pada 7 Desember 1976.  

Sebelum diwisuda, para taruna menempuh pendidikan selama empat tahun; pada tahun pertama, pendidikan digelar di AKABRI Magelang yang kini bernama Akademi Militer (Akmil). Saya masih ingat benar jatah beberapa setel Pakaian Dinas Lapangan (PDL) yang diberikan kepada masing-masing taruna. Taruna dari Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) Angkatan Udara (AU) hingga kepolisian menempuh pendidikan bersama-sama di Akmil selama setahun. Pada waktu itu, tepatnya tahun 1972, Polri masih menjadi bagian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

BACA JUGA:

Ketika pertama kali diterima di AKABRI, pangkat pertama yang disandang peserta didik adalah Prajurit Taruna (Pratar). Baru kemudian setelah menempuh pendidikan selama empat bulan di Magelang, Jawa Tengah, yang merupakan transisi dari kehidupan sipil ke militer, para taruna menerima kenaikan pangkat menjadi Kopral Taruna (Koptar)

Setelah setahun di Magelang, para Koptar yang sudah dinyatakan lulus dikirim ke angkatannya masing-masing. Para taruna dengan pangkat Sersan Taruna (Sertar) di pundak yang berasal dari AD tetap tinggal di Magelang untuk melanjutkan pendidikan di AKABRI. Sedangkan yang berasal AL melanjutkan pendidikan di Akademi Angkatan Laut (AAL), Surabaya, Jawa Timur. Para taruna AU meneruskan pendidikan di Akademi Angkatan Udara (AAU), DIY. Sementara para taruna Polri melanjutkan pendidikan di Akademi Kepolisian (AKPOL) di Sukabumi, Jawa Barat.

Selama setahun di Magelang, ada sebuah peristiwa yang selalu melekat dalam ingatan hingga hari ini. Ketika pertama kali memasuki gerbang AKABRI, semua taruna dari empat angkatan, masing-masing diberikan sebuah tas panjang, yang di kalangan tentara dikenal dengan nama plunyesak. Di dalamnya berisi berbagai peralatan/equipment yang akan dipergunakan para Pratar untuk berlatih; mulai dari PDL, helm tempur yang dipergunakan prajurit untuk melindungi kepalanya dari benturan hingga sabuk berbentuk kopel serta sepatu dan tentu saja kaos kaki.

BACA JUGA:

Setelah menerima plunyesak, semua taruna diinstruksikan untuk berbaris di depan asrama untuk keperluan pengambilan gambar/difoto. Setelah difoto, kami semua diberi pengarahan bagaimana cara memakai helm, sepatu, PDL hingga kopel. Nah, pada saat instruktur memberikan contoh atau arahan bagaimana kopel yang harus dipasang memutar hingga ke bahu, menurut saya bicaranya terlalu cepat sehingga suaranya terdengar kurang jelas. Karena itulah, saya bertanya kepada seorang rekan yang berdiri di samping saya. 

Namun justru bukan jawaban yang saya terima melainkan sebuah peringatan keras dari instruktur. Tidak berhenti sampai disitu, peringatan yang sudah sangat keras itu masih dilanjutkan dengan hukuman fisik. Sang instruktur yang berpangkat sersan kurang berkenan bahkan sangat tidak suka jika ada seorang taruna seperti saya yang berbicara dengan orang lain pada saat instruksi sedang diberikan. Sebagai taruna yang baru saja menjalani hari pertama di AKABRI, saya sangat terkejut menerima peringatan keras disertai hukuman fisik yang diberikan oleh sang instruktur.

BACA JUGA:

Pada saat itulah saya sadar jika pendidikan militer di AKABRI Magelang yang juga dikenal dengan “Lembah Tidar” sangat keras sekali. Oleh sebab itu, siapapun para peserta didik tanpa terkecuali, kemungkinan besar hingga hari ini, harus memberi perhatian penuh terhadap setiap instruksi yang diberikan. Jangan sampai perhatian terpecah atau kurang fokus jika tidak ingin memperoleh teguran keras seperti yang saya alami. Tetapi itu semua memberikan dampak yang sangat baik secara pribadi, ketika berbicara dengan seseorang, saya selalu memperhatikan dengan seksama kata-kata yang dikemukakan agar dapat memahami dengan baik apa yang dimaksud maupun dikehendaki.

Waktu terus berjalan, tanpa terasa pada 7 Desember 2026, telah genap 50 tahun, saya dan seluruh rekan-rekan alumni AKABRI 1976 resmi dilantik menjadi perwira. Masing-masing individu, baik dari AD, AL, AU hingga Polri tentu telah menjalani berbagai jenjang karier dan kepangkatan. Agar reuni tidak hanya sekedar seremoni dan silaturahmi dapat terus dilanjutkan hingga akhir usia; saya dengan dukungan tim pengelola situs pribadi, berencana untuk mewawancarai rekan-rekan satu angkatan, jika memungkinkan satu per satu tanpa terkecuali. Namun jika tidak memungkinkan beberapa perwakilan dari masing-masing matra.

Setelah wawancara, hasilnya akan dituangkan dalam bentuk artikel singkat di website ini. Mudah-mudahan jumlahnya bisa mencapai 50 artikel, sesuai dengan peringatan 50 tahun reuni emas. Bahkan jika memungkinkan akan dilanjutkan menjadi 76 artikel sesuai dengan angkatan kami di AKABRI abituren ‘76.

BACA JUGA:

Semoga rencana tersebut dapat direalisasikan.{}

Share this

Baca
Artikel Lainnya