Sejak akhir 2009, ketika masih berdinas di Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Sarana Pertahanan, saya memulai aktivitas terbang aerobatik. Selama 17 tahun, berbagai aksi aerobatik telah dilakukan menggunakan pesawat Pitts S 2 C. Karena hanya memiliki waktu di akhir pekan, disebabkan oleh kesibukan yang bertambah padat, apalagi setelah memasuki masa purna tugas, terbang aerobatik hanya dapat dilakukan sekali dalam sepekan setiap Sabtu Pagi.
Sejak pertama kali tiba dari Amerika Serikat (AS), Pitts S 2 C, ditempatkan di hanggar Pusat Pendidikan Kedirgantaraan (Pusdirga), Cibubur, Jakarta Timur. Di hanggar Pusdirga itulah, pesawat dirawat sebelum lepas landas/take off di landasan/runway dan melakukan berbagai manuver. Tanpa terasa, perlahan namun pasti, meski hanya sempat terbang selama 15 hingga 30 menit di akhir pekan, mekanik yang bertugas melakukan perawatan/maintenance pesawat mengingatkan pada akhir pekan lalu jika jam terbang saya di pesawat Pitts S 2 C telah mencapai 500 jam.
Mengingat usia yang tak lagi muda, pencapaian 500 jam terbang cukup membanggakan bagi saya secara pribadi. Berbagai manuver yang dapat dilakukan dari kokpit Pitts, mulai dari roll, loop, knife-edge hingga Hammerhead. Banyak sekali manuver yang dapat dilakukan menggunakan Pitts.
BACA JUGA:
Sebagai penerbang solo aerobatic, berbagai manuver dapat dilakukan dari dalam kokpit pesawat. Kelebihan pesawat bersayap ganda yang berada di atas dan di bawah seperti Pitts adalah dapat diterbangkan dengan lebih lincah karena posisi dua sayap yang bertumpuk satu sama lain. Itu yang menyebabkan pesawat dapat bermanuver dengan sangat lincah sekali. Selama hampir 17 tahun dan di dalam kokpit pesawat 500 jam, kekurangan pesawat adalah ketika terbang rendah. Contohnya pada ketinggian 1000 kaki, pesawat menjadi tidak stabil ketika diterbangkan atau mengalami bumping. Situasi dan kondisinya tidak berbeda jauh ketika mengendarai kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat ketika melintasi jalan bergelombang. Artinya memang pesawat tidak nyaman jika terbang rendah.
Performanya akan jauh lebih baik jika diterbangkan pada ketinggian 4000-7000 kaki. Namun, ketinggian terbang untuk penampilan/performance aksi aerobatik adalah di atas 300 kaki agar penonton dapat menyaksikan dengan jelas. Kendala pada saat terbang rendah adalah jarak/jangkauan pandang penerbang yang tertutup kurang lebih sebesar 50 persen; apalagi selama di darat yang disebabkan karena roda kecil yang terletak di bagian ekor pesawat terbang.
Salah satu atau bahkan penyebab utama pesawat tidak nyaman diterbangkan pada ketinggian rendah adalah suhu atau thermal. Meski hanya saya seorang diri yang menerbangkan Pitts untuk melakukan aksi aerobatik di Indonesia. Para penerbang Pitts lain di berbagai belahan dunia sepakat jika pesawat harus diterbangkan pada ketinggian tertentu atau antara 4000-7000 kaki agar dapat dimaksimalkan performanya.
BACA JUGA:
Tantangan utama bagi penerbang solo aerobatic adalah menerbangkan pesawat hingga batas maksimalnya dengan melakukan berbagai manuver. Tidak seperti tim aerobatik yang menerbangkan lebih dari satu pesawat; contohnya adalah Jupiter Aerobatic Team (JAT) Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU), yang setiap kali menggelar aksi aerobatik berupa atraksi di udara mengerahkan lima hingga enam pesawat; pilot solo aerobatic hanya menerbangkan satu pesawat.
Oleh sebab itu, penerbang solo aerobatic tidak perlu menyesuaikan pergerakannya dengan pesawat-pesawat lain seperti di tim aerobatik. Jadi kemampuan pesawat benar-benar dapat dimaksimalkan. Performa pesawat yang didesain pada era Perang Dunia Kedua di tahun 1943 hingga 1944 itu terbukti mampu merajai kompetisi aerobatik yang digelar di berbagai belahan dunia pada era 1960 hingga 1970-an. Seiring dengan perkembangan zaman, Pitts terus menerus diproduksi dan mengalami penyempurnaan, mulai dari desain hingga performa mesinnya. Pesawat aerobatik yang saya terbangkan adalah Pitts S2C buatan tahun 2000 yang memang diproduksi untuk terbang full aerobatic.
Meskipun terbang rutin hanya sekali dalam sepekan, setiap Sabtu pagi, namun jika ada event, didampingi mekanik yang bernama Basuki (saya memanggilnya Pak Bas), kami berdua selalu menghadiri undangan dari berbagai kota; Di Pulau Sumatera; mulai dari Palembang, Tanjung Pinang, hingga Lampung. Sementara di Jawa, kami berdua pernah terbang hingga ke Tasikmalaya, Pangandaran, Yogyakarta, Madiun hingga Malang.
BACA JUGA:
Semoga Sang Pencipta memberikan umur panjang disertai dengan kesehatan yang prima agar saya dapat terus menerbangkan pesawat dan melakukan aksi aerobatik di langit Indonesia. Oh ya, dalam waktu dekat, bersamaan dengan pencapaian 500 jam terbang, saya berencana merayakannya dengan menerbitkan buku tentang penerbangan aerobatik yang draftnya telah disusun.
Mudah-mudahan artikel-artikel singkat yang telah dipublikasikan di situs pribadi hingga penjelasan-penjelasan yang lebih detail di buku aerobatik dapat menginspirasi sekaligus menggairahkan dunia penerbangan di Indonesia. Baik penerbangan militer maupun penerbangan sipil. Karena menurut saya pribadi yang juga telah mengantongi 500 jam terbang di kokpit F-16 Fighting Falcon, 2300 jam di F-5 Tiger, 97 jam di T-33 Shooting Star, dan 105 jam di kokpit F-86 Sabre; terbang aerobatik idealnya tidak hanya harus dikuasai oleh penerbang militer atau penerbang tempur/fighter pilot. Para penerbang sipil yang menerbangkan pesawat komersial juga harus mampu atau minimal mengerti terbang aerobatik. Mengapa demikian? Akan dijelaskan secara mendetail dalam artikel berikutnya.{}




