Ilustrasi Barisan Prajurit Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua. Image by Сергій Марищук from Pixabay
Perang Generasi Ketiga

Date

Tentara Amerika Serikat (AS) baru-baru ini melakukan serangan siber terhadap kapal militer Iran yang tengah melintas di Laut Merah dan Teluk Aden. Kapal perang Iran dicurigai sedang mengumpulkan data intelijen tentang kapal-kapal kargo komersial yang tengah berlayar.

Seorang pejabat militer AS seperti dikutip dari NBC News mengemukakan jika serangan siber telah dilakukan pada pekan pertama Februari 2024. Serangan yang dilakukan merupakan respons keras pemerintah AS terhadap serangan pesawat nirawak/drone. Serangan drone dilakukan oleh kelompok milisi yang didukung penuh oleh pemerintah Iran di wilayah Irak. Tiga personel militer AS tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka dalam serangan ke sebuah situs militer yang dikenal dengan Tower 22 itu.

Kecamuk perang hingga hari ini terus terjadi di berbagai wilayah. Setelah membahas tentang Perang Generasi Pertama dan Kedua pada dua artikel sebelumnya, tulisan singkat kali ini akan membahas tentang Perang Generasi Ketiga. Pada generasi ketiga, perang dilakukan dengan manuver berdasarkan daya tembak yang dilakukan untuk menguras stamina lawan. Kecepatan, spontanitas mental serta fisik prajurit menjadi tiga variabel utama. Salah satu contoh Perang Generasi Ketiga adalah Perang Dunia Kedua.

Dari Perang Dunia Kedua terlihat jelas jika telah terjadi evolusi peperangan yang berfokus pada penggunaan teknologi modern untuk meningkatkan kecepatan, pergerakan pasukan siluman, dan berbagai kejutan yang ditunjukkan dalam pertempuran. Generasi ketiga sangat jauh berbeda dengan perang generasi sebelumnya yang fokus pada pertempuran frontal dan kekuatan massa. Pada generasi ini, perang lebih menekankan pada manuver, taktik, dan operasi khusus.

Karakteristik Perang Generasi Ketiga

Karakteristik generasi ketiga dapat dirangkum dalam lima poin. Pertama, mobilitas tinggi yang diperlihatkan dengan penggunaan kendaraan lapis baja, helikopter, dan pesawat tempur canggih yang memungkinkan pasukan bergerak cepat dan menyerang dari berbagai arah. Kedua, daya tembak presisi yang dapat meningkatkan akurasi dan efektivitas serangan. Ketiga, teknologi siluman dan taktik infiltrasi yang memungkinkan pasukan untuk menghindari deteksi pihak lawan sehingga dapat menyerang dengan tiba-tiba. Keempat, operasi khusus yang dilakukan oleh personel terpilih memainkan peran penting dengan fokus pada operasi intelijen, sabotase, dan kontra-pemberontakan. Kelima, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengintegrasikan sistem senjata, mengoordinasikan pasukan, dan menyebarkan informasi.

Selain Perang Dunia Kedua, empat perang lain yang meletus selanjutnya adalah Perang Teluk Pertama yang pecah pada 1990 hingga 1991, Perang Kosovo pada 1999, Perang Afghanistan pada 2001 hingga Perang Teluk Kedua (2003-2011). Peperangan pada era modern sangat dipengaruhi oleh generasi ketiga. Berikut beberapa dampak signifikan yang perlu digarisbawahi:

1.Pertempuran yang lebih singkat dan intens dibanding perang generasi sebelumnya karena tingkat intensitasnya yang lebih tinggi.

2. Penggunaan senjata berpemandu yang presisi dan serangan udara dapat meminimalisir potensi jatuhnya korban rakyat sipil yang tidak berdosa sekaligus memperkecil kemungkinan terjadinya collateral damage.

3. Pasukan khusus memainkan peran yang lebih penting dalam PGK dibandingkan dengan perang generasi sebelumnya.

4.Teknologi memainkan peran penting dalam PGK, dan secara terus menerus peranannya menjadi lebih penting dalam perang generasi selanjutnya yang terjadi di masa depan.

Perang Generasi Ketiga menjadi pintu masuk bagi generasi selanjutnya yaitu generasi Keempat dan Kelima. Generasi keempat fokus pada peperangan asimetris dan non-kinetik, termasuk pemberontakan, terorisme, dan serangan dunia maya. Sedangkan generasi kelima berfokus pada penggunaan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan, robotika, dan senjata otonom.

Pesawat yang diterbangkan pada Perang Dunia Kedua.
Foto: WikiImages/Pixabay

Generasi keempat dan kelima akan dibahas pada artikel berikutnya, namun yang jelas uraian tentang generasi ketiga telah memperlihatkan jika terjadi evolusi peperangan yang signifikan. Penggunaan teknologi modern mulai dioptimalkan untuk meningkatkan kecepatan, pergerakan pasukan siluman, dan kejutan dalam pertempuran. Selain itu, generasi ketiga juga memberikan dampak yang berarti untuk pengembangan karakteristik peperangan modern. Perkembangan juga terus menerus terjadi seiring dengan munculnya teknologi dan ancaman baru yang muncul dan harus dihadapi.

Penggunaan senjata berteknologi tinggi telah mengubah strategi dan taktik militer, mulai dari angkatan darat, laut, dan udara. Berikut beberapa poin penting terkait operasi yang digelar dalam pertempuran oleh angkatan darat, laut dan udara:

Angkatan Darat:

  • Menggunakan kendaraan lapis baja dan helikopter agar dapat bergerak cepat sehingga dapat beradaptasi dengan situasi yang berubah-ubah.
  • Senjata yang presisi dan artileri canggih memungkinkan pasukan darat untuk menyerang target dengan lebih akurat dan mengurangi korban sipil.
  • Pasukan darat bekerja sama dengan angkatan laut dan udara untuk mencapai tujuan bersama.
  • Pasukan darat memainkan peran penting dalam memerangi pemberontakan dan terorisme.

2. Angkatan Laut:

  • Kapal perang modern dilengkapi dengan rudal anti-pesawat dan sistem pertahanan udara canggih untuk melindungi diri dari serangan udara.
  • Kapal perang dan kapal selam menggunakan rudal presisi untuk menyerang target di darat dan laut.
  • Angkatan laut bekerja sama dengan angkatan darat dan udara untuk menjaga keamanan maritim dan melindungi wilayah pesisir.
  • Angkatan laut menggunakan teknologi canggih untuk mendeteksi dan menghancurkan kapal selam musuh.

3. Angkatan Udara:

  • Angkatan udara berusaha untuk meraih superioritas udara dengan menghancurkan pesawat tempur musuh dan sistem pertahanan udara.
  • Pesawat tempur dan bomber menggunakan bom presisi dan rudal untuk menyerang target di darat dan laut.
  • Angkatan udara memberikan dukungan udara kepada pasukan darat dengan menyerang target musuh dan memberikan bantuan logistik.
  • Angkatan udara menggunakan teknologi peperangan elektronik untuk mengganggu dan melumpuhkan sistem komunikasi dan elektronik musuh.

Dari uraian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan jika pada Perang Generasi ketiga, koordinasi dan integrasi yang solid antara tiga matra di dalam tubuh angkatan bersenjata adalah kunci untuk memenangkan pertempuran.{}

Foto utama: Barisan Prajurit Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua.
Сергій Марищук /Pixabay

Share this

Baca
Artikel Lainnya