Korea Aerospace Industries (Foto: Korea Aerospace Industries)
Pangsa Pasar KF-21 Boramae

Date

Setidaknya ada lima negara potensial yang ingin membeli KF-21 Boramae. Ini akan menjadi lompatan besar bagi Indonesia yang terlibat dalam produksinya.

Purwarupa jet tempur KF-21 Boramae lulus uji terbang kedua. Seperti diberitakan di berbagai media, jet tempur yang dikembangkan oleh Korea Selatan dan Indonesia tersebut berhasil terbang selama 39 menit pada Jumat, 29 Juli 2022 pukul 11.02 pagi waktu setempat.

Dilansir dari KBS World, Minggu, 31 Juli 2022, Korea Aerospace Industries (KAI), pesawat lepas landas dari landasan pacu Sayap Pelatihan Terbang Ketiga di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan.

Keberhasilan uji terbang merupakan sebuah pencapaian yang signifikan. Namun keberhasilan tidak akan berarti apabila produk yang dihasilkan tidak dapat diterima oleh pasar.

Terkait respons pasar terhadap jet tempur produksi dua negara di Benua Asia itu, ada dua institusi yang telah melakukan riset tentang potensi penyerapan pasar terhadap KF-21 Boramae.

Pertama adalah Jane’s dan kedua adalah Strategic Defense Inteligence. Keduanya berkantor di Ibu Kota Inggris, London.

Kedua lembaga tersebut pernah melakukan riset pasar pada 2016. Hasilnya Boramae memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dibeli oleh negara-negara yang ingin skadron pesawat tempur untuk menjaga kedaulatannya di udara.

Ada empat hingga lima negara potensial (yang demi kebaikan negara sebaiknya memang tidak disebutkan sekarang) yang berkeinginan untuk memiliki Boramae.

Jadi jumlah minimum yang dibutuhkan oleh negara-negara terkait paling tidak jumlahnya mencapai 160 unit. Sehingga tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa kebutuhan atau permintaan pasar ke depan cukup besar. Hasil survei telah membuktikannya.

Lompatan Besar

Karena prospeknya sangat baik, maka Indonesia sebagai negara mitra Korsel tentu akan memperoleh dampak yang sangat positif.

Artinya, jika kerja sama kedua negara terus dilanjutkan sesuai kesepakatan awal, maka Indonesia akan mendapatkan pembagian (share) sebanyak 20 persen dari kontrak-kontrak yang akan diperoleh.

Mulai dari manufaktur pesawat hingga suplai maupun suku cadang akan dikerjakan oleh Indonesia dalam hal ini PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang berkedudukan di Bandung.

Sebuah lompatan besar dipastikan akan terjadi di Indonesia apabila terlibat dalam produksi Boramae.

Pemasukan negara tidak hanya berasal dari sumber daya alam saja seperti era-era sebelumnya, namun juga dari produksi pesawat tempur yang menggunakan teknologi tinggi.

Selain itu, Indonesia akan menjadi inspirasi bagi negara-negara berkembang lainnya di berbagai kawasan yang ingin memiliki pesawat tempur generasi 4,5 namun anggarannya terbatas. Mengapa demikian?

Karena harga Boramae yang murah akan menjadi faktor sweetener bagi negara-negara berkembang lainnya.

Namun harga yang murah bukan berarti kualitas pesawat juga menjadi murahan. Boramae yang didesain dengan menggunakan teknologi tinggi tetap mengedepankan pertimbangan kebutuhan konvensional pesawat tempur seperti kemampuan manuver.

Sekadar informasi, ada berbagai tipe pesawat tempur baik dari generasi 4,5 bahkan 5 yang tidak memperhatikan kemampuan manuver.

Jadi Boramae yang harganya murah dan memiliki kemampuan untuk bermanuver dengan baik akan menjawab kebutuhan peran pesawat tempur pada masa yang akan datang.

Itulah dua poin terpenting yang akan menjadi pertimbangan utama dari negara-negara yang ingin memperkuat pertahanan udaranya dengan pembelian pesawat tempur.

Maka tidaklah berlebihan jika Indonesia harus segera mempersiapkan diri sebagai negara mitra untuk bersama-sama dengan Korsel menjadi produsen pesawat tempur pada masa mendatang.{}

Foto: Dok.Korea Aerospace Industries

Share this

Baca
Artikel Lainnya