Tiga Keuntungan Indonesia Berkolaborasi dengan Korsel dalam Pembuatan Pesawat Tempur

Date

Kerja sama Indonesia dan Korea Selatan ini sangat strategis untuk masa depan.

Pada 22 Juli 2022, seperti diberitakan di berbagai media massa, KF-21 Boramae akan melakukan uji terbang untuk pertama kalinya. Sekadar informasi, dalam bahasa Korea, Boramae berarti elang.

Uji terbang dilakukan setelah pesawat tempur hasil kolaborasi Korea Selatan (Korsel) dan Indonesia itu telah berhasil melalui uji mesin statis dan uji jalan di landasan.

Sejak awal, KF-21 memang didesain untuk menjawab kebutuhan dari dua negara yang telah sepakat untuk bekerja sama mengembangkan pesawat tempur. Berdasarkan kemampuan teknologi, KF-21 dapat dikategorikan sebagai pesawat tempur generasi 4,5. 

Mengapa demikian?

Karena KF-21 adalah multirole fighter aircraft yang dilengkapi dengan weapon vision range missile dan beyond visual range. Selain itu, pesawat juga memiliki kemampuan semi stealth, smart avionic dan dilengkapi dengan sensor feature peluru kendali serta highly manuverable aircraft. Jadi seperti itulah spesifikasi pesawat tempur yang akan diproduksi oleh kedua negara. 

Manfaat untuk Indonesia

Pertanyaan selanjutnya adalah seperti apa manfaat yang akan diperoleh oleh Indonesia dalam kerja sama bilateral?

Pertama, ada transfer pengetahuan sehingga Indonesia kelak menguasai high modern technology. Kedua, cost saving maintenance dan ketiga adalah pemutakhiran (upgrading) pesawat.

Jadi perlu diketahui jika selama ini dalam persoalan pengadaan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alustista) seperti pesawat tempur, Indonesia hanya sebagai negara konsumen. Artinya jika ada pesawat tempur yang ditawarkan oleh negara produsen seperti Amerika Serikat (AS), Prancis, Swedia hingga Rusia, maka sebagai konsumen, Indonesia hanya dapat membelinya. Jadi jika harganya mengalami kenaikan, sebagai konsumen tentu tidak akan memiliki posisi tawar yang kuat ketika bernegosiasi dengan produsen. 

Tak hanya pada tahap pembelian, terkait dengan pemeliharaan (maintenance) hingga pengadaan suku cadang/onderdil (spare parts), Indonesia sebagai negara konsumen juga memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap produsen. Selain itu, jika ingin melakukan pembaharuan (upgrading), misalnya terhadap sistem persenjataan pesawat, konsumen juga akan sangat tergantung kepada produsen.

Namun jika Indonesia bisa menguasai teknologi untuk memproduksi pesawat tempur untuk menjaga kedaulatan di udara maka negara dapat melakukan penghematan anggaran (cost saving). Baik dari sisi maintenance maupun upgrading

Tak hanya itu, lapangan pekerjaan di dalam negeri juga akan bertambah jika Indonesia mampu memproduksi, melakukan maintenance sekaligus upgrading. Dampaknya tentu saja industri dirgantara nasional akan berkembang sehingga perekonomian Indonesia secara otomatis juga akan ikut bertumbuh. 

Karena pesawat tempur merupakan produk teknologi tinggi, maka pendapatan (revenue) yang diperoleh akan sangat besar. Indonesia akan menjadi bagian dari manajemen rantai pasokan global (global supply chain) untuk pesawat tempur generasi mendatang.

Tanpa bermaksud untuk menggurui, dengan mempertimbangkan berbagai keuntungan yang akan diperoleh, bukankah kerja sama dengan Korsel sangat strategis untuk masa depan Indonesia? {}.   

Share this

Baca
Artikel Lainnya